Duka Indonesia untuk Khamenei, Mengapa Diaspora Iran Bersukaria?

oleh -209 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Gama Lusi Andreas Soge

Wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, memunculkan respons global yang kontras. Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, ucapan belasungkawa disampaikan sebagai bentuk penghormatan diplomatik terhadap seorang kepala negara. Namun di banyak kota dunia (London, Berlin, Toronto, hingga Los Angeles), sebagian diaspora Iran justru merayakannya. Kontras ini memperlihatkan satu realitas penting dalam politik internasional: seorang pemimpin dapat memiliki makna simbolik yang berbeda bagi audiens yang berbeda. Bagi negara lain, Khamenei adalah aktor geopolitik; namun bagi sebagian rakyatnya sendiri, Ia mungkin simbol rezim yang dipersoalkan (Shirazi 2025; Kazemi 2025).

Fenomena ini hanya dapat dipahami dengan menggabungkan analisis geopolitik dengan teori hubungan internasional, khususnya realisme, legitimasi politik, dan politik identitas transnasional. Dalam kajian hubungan internasional kontemporer, negara sering dipahami sebagai aktor rasional yang mengejar stabilitas dan kepentingan nasional, sementara masyarakat sipil dan diaspora dapat memproduksi narasi alternatif terhadap legitimasi negara (Acharya 2018; Rabiei Kenari 2023).

Diplomasi Negara dan Rasionalitas Realisme

Dalam tradisi hubungan internasional, sikap negara terhadap wafatnya pemimpin negara lain sering kali dipandu oleh logika realisme. Dalam perspektif ini, negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional dan stabilitas sistem internasional. Oleh karena itu, ungkapan belasungkawa bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi bagian dari praktik diplomatik yang menjaga hubungan antarnegara (Mearsheimer 2019; Walt 2018).

Indonesia, misalnya, menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang memungkinkan hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan global tanpa terjebak dalam blok ideologis tertentu. Dalam kerangka ini, penghormatan terhadap pemimpin negara lain dipahami sebagai norma diplomasi internasional yang menjaga stabilitas hubungan antarnegara dan keseimbangan kekuatan dalam sistem global (Acharya 2018; Sukma 2020).

Dalam perspektif realisme, Iran juga memiliki arti strategis dalam konfigurasi geopolitik Timur Tengah. Selama tiga dekade kepemimpinan Khamenei, Iran menempatkan dirinya sebagai kekuatan regional yang menantang dominasi Amerika Serikat dan sekutunya melalui strategi deterrence asimetris dan dukungan terhadap jaringan sekutu regional (Juneau 2020; Gause 2019).

Bagi banyak negara di Global South, posisi Iran ini sering dipandang sebagai bentuk resistensi terhadap hegemoni Barat. Dalam literatur hubungan internasional kritis, fenomena ini sering dipahami sebagai bagian dari dinamika “contested order” dalam sistem internasional, di mana negara-negara non-Barat berusaha menegosiasikan kembali struktur kekuasaan global (Acharya 2018; Valbjørn & Bank 2018).

Perspektif Diaspora: Politik Legitimasi dan Pengalaman Historis

Namun perspektif negara tidak selalu sejalan dengan pengalaman masyarakat yang hidup di bawah sistem politik tersebut. Bagi sebagian diaspora Iran, Khamenei bukan hanya pemimpin negara, tetapi simbol dari sistem politik yang dianggap mengekang kebebasan sipil. Pengalaman eksil dan migrasi politik sering membentuk memori kolektif yang lebih kritis terhadap negara asal (Kazemi 2025; Rabiei Kenari 2023).

Gelombang protes yang muncul setelah kematian Mahsa Amini pada 2022 menjadi salah satu contoh penting. Demonstrasi yang dikenal dengan slogan “Woman, Life, Freedom” tidak hanya terjadi di dalam Iran, tetapi juga menyebar ke komunitas diaspora di berbagai negara (Shirazi 2025; Khorramrouz et al. 2023).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa diaspora Iran memainkan peran penting dalam memperkuat solidaritas transnasional terhadap gerakan protes tersebut. Demonstrasi besar diaspora bahkan terjadi di berbagai kota Eropa, termasuk Berlin yang menjadi salah satu pusat mobilisasi solidaritas global (Shirazi 2025; Kazemi 2025).

Dalam perspektif teori legitimasi politik, fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara negara dan sebagian warganya. Legitimasi suatu rezim tidak hanya ditentukan oleh kontrol institusional, tetapi juga oleh penerimaan sosial masyarakat terhadap sistem tersebut. Ketika kesenjangan antara negara dan masyarakat melebar, simbol-simbol politik yang dihormati oleh negara bisa justru ditolak oleh sebagian rakyatnya (Levitsky & Way 2020; Kazemi 2025).

Polarisasi dan Transformasi Sosial di Iran

Kontras antara duka dan sukacita terhadap wafatnya Khamenei juga mencerminkan transformasi sosial yang sedang terjadi di Iran. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Iran mengalami perubahan sikap terhadap hubungan antara agama dan negara, terutama di kalangan generasi muda (Garoupa & Spruk 2025; Hemmat et al. 2023).

Perubahan ini terlihat dalam berbagai gelombang protes sejak 2009 hingga demonstrasi besar setelah kematian Mahsa Amini. Protes-protes tersebut memperlihatkan adanya ketegangan struktural antara generasi muda Iran dan sistem politik yang diwariskan dari revolusi 1979 (Khorramrouz et al. 2023; Sakti & Maksum 2025).

Dalam konteks ini, reaksi diaspora Iran terhadap wafatnya Khamenei mencerminkan harapan terhadap kemungkinan perubahan politik di masa depan. Diaspora sering memandang momen politik tertentu sebagai peluang bagi transformasi sistem politik di negara asal mereka (Kazemi 2025; Shirazi 2025).

Politik Identitas Transnasional

Fenomena diaspora juga dapat dianalisis melalui konsep politik identitas transnasional. Dalam era globalisasi, identitas politik tidak lagi terbatas pada batas negara. Komunitas diaspora sering kali memainkan peran penting dalam membentuk opini global tentang politik domestik negara asal mereka (Rabiei Kenari 2023; Acharya 2018).

Penelitian tentang diaspora Iran menunjukkan bahwa memori kolektif, nostalgia, dan identitas politik memainkan peran penting dalam mobilisasi politik diaspora. Banyak anggota diaspora melihat diri mereka sebagai “suara eksternal” bagi masyarakat Iran yang tidak memiliki kebebasan politik di dalam negeri (Kazemi 2025; Shirazi 2025).

Hal ini menjelaskan mengapa reaksi diaspora terhadap peristiwa politik di Iran sering kali lebih emosional dibandingkan dengan reaksi masyarakat internasional yang melihat Iran melalui lensa geopolitik.

Simbol Politik dan Persepsi Global

Kasus Khamenei menunjukkan bahwa figur politik internasional dapat memiliki makna simbolik yang sangat berbeda. Dalam perspektif geopolitik global, ia sering dilihat sebagai simbol resistensi terhadap dominasi Barat dan kekuatan regional yang menantang tatanan keamanan Timur Tengah (Juneau 2020; Gause 2019).

Namun dalam perspektif sebagian warga Iran dan diaspora, ia dapat dipersepsikan sebagai simbol sistem politik yang membatasi kebebasan sipil dan ruang partisipasi politik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa politik internasional tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan negara, tetapi juga oleh narasi sosial yang berkembang di masyarakat (Levitsky & Way 2020; Rabiei Kenari 2023).

Membaca Reaksi Global secara Lebih Kritis

Kontras antara duka di sebagian dunia dan sukacita di kalangan diaspora Iran memberikan pelajaran penting tentang cara membaca politik global. Perspektif negara sering kali berfokus pada stabilitas geopolitik dan hubungan antarnegara. Sebaliknya, perspektif masyarakat (terutama diaspora) lebih dipengaruhi oleh pengalaman historis dan aspirasi politik (Acharya 2018; Kazemi 2025).

Bagi negara seperti Indonesia, penting untuk memahami kedua perspektif ini secara seimbang. Iran bukan hanya aktor geopolitik yang memainkan peran penting dalam dinamika Timur Tengah, tetapi juga masyarakat yang sedang mengalami transformasi sosial dan politik yang kompleks.

Karena itu, wafatnya Khamenei bukan sekadar peristiwa personal, melainkan momen yang membuka kembali pertanyaan tentang masa depan politik Iran. Apakah sistem politik yang diwariskan dari revolusi 1979 akan bertahan atau mengalami transformasi, masih menjadi pertanyaan terbuka dalam studi politik Timur Tengah kontemporer (Garoupa & Spruk 2025; Juneau 2020).

Namun satu hal jelas: perbedaan reaksi global terhadap kematian Khamenei menunjukkan bahwa warisan seorang pemimpin tidak pernah tunggal. Tetapi selalu dipahami melalui pengalaman sejarah, kepentingan politik, dan identitas sosial yang berbeda-beda.

Penulis adalah Warga Tanjung Bunga Flores Timur

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.