Bukan Sekadar Ritual: Jalan Salib sebagai Kritik Atas Gaya Hidup Hedonisme Modern

oleh -561 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Benignu Maria das Dores Oqui

Ritual Jalan Salib (Via Dolorosa) adalah salah satu tradisi yang dijalankan oleh semua umat kristiani di masa prapaskah. Ritual ini terdapat 14 perhentian yang merupakan kisah sengsara terakhir Yesus Kristus, yang mana awalnya Dia diadili dengan sewenang-wenangnya hingga berakhir pada pemakaman-Nya. Namun, di tengah hidup serba instan dan budaya kosumeris yang mendewakan materi, muncul pertanyaan eksistensial: Apakah Jalan Salib masih ada maknanya, atau cuma jadi tontonan dan rutinitas tahunan saja?

Apabila direfleksikan lebih dalam, Jalan Salib sebenarnya ialah sebuah pernyataan perlawanan yang fundamental. Di era dimana kebahagiaan banyak kali diukur melalui angka seperti pada saldo rekening, jumlah followers di media sosial dan pamer kemewahan, hingga persis Jalan Salib hadir sebagai penyangkalan yang meninabobokan kesadaran manusia modern.

Gaya hidup mewah zaman sekarang itu prinsipnya simpel: penderitaan adalah kegagalan dan kesenangan adalah keberhasilan. Hidup serba instan kita hari ini menciptakan anggapan bahwa kesuksesan berarti hidup tanpa derita, penuh kenyamanan dan jauh dari kemiskinan. Akibatnya, manusia modern menjadi sangat labil secara mental saat berhadapan dengan dunia yang tidak ideal. Penderitaan dilihat sebagai gangguan yang harus segera dihindari dengan sikap konsumtif atau pelarian rekreasi.

Seorang pakar psikolog Segmud Freud menekankan bahwa “Jika seseorang terus-menerus lari dari penderitaan demi kesenangan instan, mereka akan terjebak dalam perilaku yang impulsif, sulit menunda keinginan, dan gagal beradaptasi dengan realita. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat perkembangan kepribadian karena seseorang tidak belajar menghadapi tantangan hidup yang sebenarnya”.

Dari sinilah Jalan Salib memberikan tamparan reflektif bagaimana menghadapi beban hidup. Ritual ini tidak mengisahkan tentang kejayaan atau kenyamanan. Sebaliknya, ia memberikan penolakan, jatuh bangun di bawah beban kayu yang kasar, hingga penghinaan publik. Jalan Salib menunjukan bahwa penderitaan bukan merupakan sebuah keburukan atau aib yang harus disembunyikan di balik filter media sosial, melainkan sebagai bagian esensial dari pendewasaan spiritual dan kemanusiaan. Yesus Kristus melalui Jalan Salib mengingatkan kita bahwa ada makna yang lebih dalam di balik “luka” dari pada sekadar “untung”. Dengannya ritual ini, kita diundang untuk berdamai dengan kerapuhan diri, bukan malah terus-menerus memakai topeng kesempurnaan semu atau zona nyaman.

Melawan Budaya “Pemujaan Diri”

Pemujaan terhadap kesenangan sering kali berujung pada rasa cinta diri yang berlebihan sebuah kebiasaan “Aku” menjadi pusat perhatian. Segalanya harus tentang kenyamananku, kesukaanku, dan citra diriku. Kita tidak sadar budaya ini melahirkan masyarakat yang hidup acuh tak acuh terhadap ketidakadilan. Sedangkan, esensi dari memikul Salib adalah penyangkalan diri demi nilai yang lebih tinggi (Bdk. Lukas 9:23). Dalam konteks sosial hari ini, dimana ada ketimpangan sosial rentan dan kemiskinan struktural masih nyata, gaya hidup hedonis yang dipamerkan di ruang publik adalah ketidakpekaan nurani.

Ada juga kecenderungan zaman modern ini dimana orang yang memiliki ekonomi hidup menengah menjadi lupa diri sampai berujung suka pamer di media sosial layaknya orang kaya. Jalan Salib menggugat egoisme tersebut. Ritual ini mengajak kita untuk “berhenti” pada setiap perhentian hidup sesama yang sedang memikul beban berat, mereka yang tersingkir secara ekonomi, mereka yang tidak mendapatkan akses keadilan. Ritual ini menuntut kita untuk kembali dari manusia yang haus pemuasan diri (Homo HedonisticusI) menjadi manusia yang solider (Homo Solidaricus).

Ujung dari kritik Jalan Salib terhadap hedonisme adalah hadirnya sosok-sosok seperti Simon dari Kirene yang membantu Yesus memikul beban Salib, atau Veronika yang dengan keberaniannya menerobos masuk pertahanan Pilatus hanya untuk mengusap wajah Yesus yang penuh darah dan keringat. Di dunia yang individualis, tindakan mereka adalah tindakan radikal. Hedonisme membawa kita untuk menjaga jarak dari “masalah” orang lain agar kenyamanan kita tidak terganggu. Namun,

Jalan Salib justru memerintahkan kita untuk mengambil bagian dari beban orang lain atau berkotor tangan dalam penderitaan sesama.
Jalan Salib mengajarkan bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang dihabiskan untuk menumpuk harta demi keamanan dan kenyamanan diri sendiri, melainkan hidup yang dipertaruhkan untuk meringankan beban orang lain. Hidup itu bukan soal cinta harta atau tergantung pada kekayaan, melainkan sejatinya hidup itu bermakna apabila ditemukan dalam pengorbanan dan pelayanaan (bdk. Luk.12:15). Keberanian Simon dan Veronika adalah simbol bahwa kemanusiaan hanya bisa tegak jika ada kesediaan untuk berbagi beban.

Menuju Paskah yang Transformatif

Pada akhirnya Jalan Salib sebagai kritik gaya hidup berarti berani melawan arus hidup modern dimana manusianya hidup serba instan, suka pamer dan narsistik. Ini bukan berarti kita harus memuja kemiskinan, melainkan menolak untuk diperbudak oleh keinginan yang tanpa batas. Gaya hidup sederhana menjadi poin penting untuk menghancurkan konsumerisme yang merusak alam dan tatanan sosial.

Apabila kehadiran Jalan Salib tidak bisa mengubah cara kita menghargai sesama yang kecil di sekitar kita, atau tidak mampu membuat hasrat kita untuk pamer kekuasaan dan kekayaan di tengah penderitaan publik, maka ritual tersebut menjadi sia-sia karena tidak dihayati dengan baik, dan pada akhirnya ritual ini mengalami kehilangan makna. Ia hanya menjadi perarakan yang kuah kosong tanpa ada transformasi batin.

Jadi, paskah tahun ini harus menjadi kesempatan kebangkitan nurani. Sebuah ajakan untuk meruntuhkan hedonisme dan materialisme dan membangun kembali rasa empati. Karena pada akhirnya, ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa mewah ia hidup, melainkan pada seberapa ia berani setia memanggul salib kebenaran dan cinta kasih, walau pun jalan itu penuh dengan tanjakan yang pedih.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.