Ahmad Yohan: 28 Tahun PAN Merayakan Amanat di Tengah Duka Flores

oleh -91 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dan Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Nusa Tenggara Timur (NTT), Ahmad Yohan dalam momentum hari ulang tahun partai yang ke-28 menyatakan duka mendalam dan politik kehadiran untuk korban bencana gempa Flores.

“Hari ini Minggu, 23 Agustus 2026, PAN genap berusia 28 tahun. Dua puluh delapan tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sebuah partai politik. Ia adalah rentang waktu yang seharusnya menjadi ruang untuk melakukan refleksi: untuk apa politik hadir, kepada siapa kekuasaan diabdikan, dan sejauh mana amanat rakyat benar-benar dijaga,” ujarnya.

HUT ke-28 PAN tahun ini datang dalam suasana yang berbeda. Di tengah ucapan syukur dan perayaan, Flores masih berduka. Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat.

“Sebagian saudara kita masih tinggal di tenda-tenda darurat, kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang-orang yang mereka cintai,” tegasnya.

Ahmad Yohan menegaskan dalam situasi seperti ini, perayaan ulang tahun partai semestinya tidak berhenti pada seremoni. Justru di tengah duka, makna sebuah partai politik diuji.

Politik Tidak Boleh Kehilangan Wajah Kemanusiaan

Menurutnya, politik sering kali dipahami sebagai perebutan kekuasaan, jabatan, suara dan pengaruh. Namun politik yang kehilangan kemanusiaan akan menjadi politik yang kosong. Rakyat tidak hanya membutuhkan wakil yang pandai berbicara di ruang sidang. Rakyat membutuhkan kehadiran ketika rumah mereka runtuh, ketika keluarga mereka kehilangan orang yang dicintai, ketika anak-anak mereka tidur di tenda darurat, dan ketika hari esok terasa begitu berat untuk dibayangkan.

“Di situlah politik menemukan maknanya. PAN lahir dari semangat reformasi. Maka, 28 tahun kemudian, kita perlu kembali bertanya: untuk apa kekuasaan diberikan kepada kita? Bukan hanya berapa banyak kursi yang kita miliki,” tandasnya.

Bukan hanya seberapa besar pengaruh politik yang kita bangun, lanjutnya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan bagi rakyat.

“Sebab kekuasaan tanpa kepedulian hanya akan melahirkan jarak. Sebaliknya, kekuasaan yang dipandu oleh kemanusiaan akan melahirkan pengabdian. Flores mengajarkan arti sebuah amanat gempa Flores menjadi cermin yang keras bagi kita semua,” tegas Ahmad Yohan.

Menurutnya, alam mengguncang tanah, tetapi tragedi tidak boleh mengguncang solidaritas kita. Ketika bangunan roboh, jangan sampai rasa persaudaraan ikut runtuh.

Ketika warga kehilangan tempat tinggal, negara dan seluruh elemen masyarakat harus hadir memberikan rasa aman. Ketika masyarakat kehilangan keluarga, kita tidak cukup hanya mengirimkan ucapan belasungkawa. Kita harus hadir dengan tindakan.

“Bagi saya, duka Flores bukan sekadar berita bencana. Duka Flores adalah panggilan kemanusiaan. Panggilan untuk bergerak. Panggilan untuk peduli. Panggilan untuk meninggalkan sejenak sekat-sekat kepentingan dan berdiri bersama mereka yang sedang menderita,” ujarnya.

Karena pada akhirnya, kata Ahmad Yohan, rakyat tidak membutuhkan janji ketika mereka sedang kehilangan. Mereka membutuhkan kehadiran.

HUT PAN Harus menjadi Momentum Evaluasi

HUT ke-28 PAN harus menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: Apakah politik kita sudah cukup dekat dengan rakyat? Apakah jabatan sudah benar-benar kita pahami sebagai amanat? Apakah suara rakyat hanya kita cari ketika pemilu, atau kita perjuangkan setiap hari? Demokrasi bukan hanya tentang datang ke TPS setiap lima tahun.

Demokrasi adalah tentang bagaimana suara rakyat diterjemahkan menjadi kebijakan, bagaimana penderitaan masyarakat diperjuangkan menjadi solusi, dan bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan keadilan. Dalam konteks Flores, amanat itu menjadi sangat nyata.

Rakyat membutuhkan pangan, air bersih, obat-obatan, tempat tinggal, layanan kesehatan, pendidikan bagi anak-anak, pemulihan ekonomi, dan kepastian masa depan. Bantuan hari ini penting.Tetapi pemulihan jangka panjang jauh lebih penting. Jangan sampai setelah kamera pergi, perhatian ikut pergi. Jangan sampai setelah berita bencana menghilang dari halaman utama, penderitaan masyarakat juga dilupakan. Dari Bantuan Menuju Pemulihan Gerak cepat membantu rakyat adalah langkah awal.

“Tetapi politik kemanusiaan harus bergerak lebih jauh: dari bantuan menuju pemulihan. Masyarakat Flores tidak hanya membutuhkan paket bantuan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali berdiri,” kata Yohan.

Petani membutuhkan sarana untuk kembali bekerja. Nelayan membutuhkan alat untuk kembali melaut. Pedagang kecil membutuhkan modal untuk membuka kembali usahanya. Anak-anak membutuhkan sekolah yang aman. Keluarga korban membutuhkan pendampingan. Dan seluruh masyarakat membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak berjalan sendirian setelah masa tanggap darurat berakhir.

Karena itu, “Gerak Cepat Bantu Rakyat” jangan berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi etika politik. Gerak cepat ketika rakyat membutuhkan. Hadir ketika rakyat berduka. Mendengar ketika rakyat bersuara. Bekerja ketika rakyat berharap. Dan tetap tinggal ketika sorotan kamera sudah tidak ada.

Politik Harus Memiliki Hati

Ada satu pelajaran sederhana dari bencana: ketika gempa datang, ia tidak pernah bertanya siapa memilih siapa. Gempa tidak mengenal warna partai. Tidak mengenal jabatan. Tidak mengenal status sosial. Tidak mengenal perbedaan politik. Karena itu, penderitaan seharusnya menyatukan kita.

“Kita boleh berbeda pilihan dalam demokrasi. Kita boleh berbeda pandangan tentang kebijakan. Kita boleh berdebat keras di ruang politik. Tetapi ketika sesama manusia sedang menderita, perbedaan itu harus berhenti di depan pintu kemanusiaan. Sebab politik tanpa kemanusiaan hanya melahirkan kekuasaan.
Tetapi politik yang memiliki hati dapat melahirkan pengabdian,” tandasnya.

28 Tahun: Dari Amanat menjadi Pengabdian

“Dua puluh delapan tahun PAN seharusnya tidak hanya dirayakan dengan panggung, baliho, ucapan dan seremoni,” tegas Ahmad Yohan.

Di tengah duka Flores, ulang tahun ini justru menemukan maknanya yang lebih dalam.
Amanat bukan sekadar kata. Amanat adalah tanggung jawab. Amanat rakyat berarti hadir ketika rakyat membutuhkan. Amanat kekuasaan berarti tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir. Amanat politik berarti menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Dan amanat kemanusiaan berarti tidak membiarkan penderitaan orang lain menjadi urusan orang lain.

Karena itu, usia 28 tahun harus menjadi titik untuk memperkuat kembali politik yang berakar pada rakyat. Bukan politik yang hanya datang saat pemilu. Bukan politik yang hanya hadir ketika kamera menyala. Tetapi politik yang tetap bekerja ketika rakyat sedang menangis.

“Flores, Kami Tidak Boleh Lupa Untuk saudara-saudara kita di Flores, pesan terbesar dari HUT PAN ke-28 bukanlah kemeriahan. Pesannya adalah solidaritas. Di tengah duka, masih ada tangan yang terulur. Di tengah kehilangan, masih ada persaudaraan. Di tengah kehancuran, masih ada harapan. Dan di tengah air mata, kita percaya bahwa kehidupan akan perlahan dibangun kembali,” ujar Ahmad Yohan.

Flores boleh diguncang gempa. Tetapi Flores tidak boleh kehilangan haraPAN. Rumah-rumah boleh runtuh. Tetapi persaudaraan tidak boleh runtuh. Dan politik boleh berbeda arah. Tetapi kemanusiaan harus tetap menjadi titik temu.

“Selamat HUT ke-28 Partai Amanat Nasional. Semoga usia 28 tahun bukan sekadar penanda panjangnya perjalanan, tetapi menjadi pengingat bahwa semakin besar amanat yang diberikan rakyat, semakin besar pula tanggung jawab untuk terus mengabdi. Terima kasih atas doa, dukungan, dan kepercayaan yang telah diberikan. Mohon maaf apabila dalam perjalanan ini kami masih belum mampu memberikan yang terbaik,” ucapnya.

“Dari duka Flores, kita belajar: politik yang sejati bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling bersedia hadir ketika rakyat membutuhkan. Gerak Cepat Bantu Rakyat. PAN untuk rakyat. PAN untuk kemanusiaan. PAN untuk Indonesia,” pungkasnya.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu pagi (15/8/2026) menelan korban 83 orang meninggal dunia, 986 luka-luka. sekitar 110.785 warga mengungsi, sembilan kabupaten dan satu kota terdampak. Selain korban jiwa dan luka, BNPB mencatat 45.006 rumah rusak, 17.175 rusak berat, 9.818 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan.

Gempa juga merusak 502 fasilitas pendidikan, 264 fasilitas kesehatan, 300 rumah ibadah, dan 339 gedung perkantoran. Kemudian, satu gudang Bulog, satu pasar, 38 fasilitas umum, 15 fasilitas air bersih, 68 titik jalan, dan 25 jembatandi berbagai wilayah terdampak. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.