Oleh: Anthonius Dewa Fernando Missa
Dunia di era globalisasi mengalami peningkatan perkembangan teknologi digital yang semakin lumrah mencengkram aktivitas manusia dalam perspektif eksistensi melalui irama algoritma yang semakin dinamis. Dalam teologi Kristen menganut paham Imago Dei yang berati “Citra Allah” yang melandasi setiap individu. Kerap kali paham ini di yakini bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, maka konsep ini menuntut setiap pribadi secara personal mendasari dirinya sendiri sebagai manusia yang mulia dan terhormat sehingga tidak bisa dinegosiasikan, tidak boleh dieksploitasi dan tidak bisa diukur dengan materi belaka.
Realitas hari ini menunjukkan pergeseran senyap yang sangat mengerikan bagi manusia, akan tetapi manusia tidak dapat mengetahui bahwa dirinya sedang dieksploitasi oleh “algoritma”. Di era digital seperti ini, manusia sangat bergantung, karena saking tergatungnya manusia tidak lagi dilihat sebagai makhluk spiritual yang utuh, tetapi manusia direduksi menjadi hanyalah komoditas deretan data. Kecerdasan buatan ini, membangun suasana “penjara tak kasat mata”.
Manusia dalam penjara ini mengalami dehumanisasi yang paling radikal, karena manusia tidak menyadari dirinya sendiri telah dikucilkan secara digital. Tanpa disadari telah muncul struktur penindasan yang melahirkan kelas sosial yang sangat baru menyerupai salah satu sistem diskriminasi terhadap sesama tertua di dunia Asia khususnya di India, kini kita pun sedang menyaksikan sebuah sistem lahirnya dalit modern. Mengapa demikian karena manusia berawal dari korban kasta beralih ke korban kode.
Dari berbagai problem di atas, maka perlu diketahui terlebih dahulu akar istilah “Dalit”. Secara etimologis kata dalit berarti “yang hancur” atau “yang terpuruk”, berada di luar hierarki empat kasta utama. Kaum yang telah diberikan cap Dalit melakukan pekerjaan yang dianggap kotor seperti membersihkan kotoran-kotoran manusia dan bahkan bangkai. Perlu diketahui bahwa mereka yang mengalami pekerjaan ini secara terpaksa, karena tentu dianggap membawa polusi ritual.
Dari uraian di atas martabat kemanusiaannya dihancurkan oleh sebuah struktur sistem sosial keagamaan yang kaku. Dengan demikian saya ingin kaitkan dengan konteks Dalit modern atau penjara algoritma. Tetapi, konteks hari ini tidak lagi dalam konteks bukan lagi soal penindasan seperti yang terjadi pada masa lampau di India, namun yang pasti dan terjadi adalah soal kode dan algoritma.
Dalit modern adalah suatu model populasi global yang semakin lumrah menghancurkan dan bahkan dikucilkan dalam biasnya teknologi. Tetapi, sasaran algoritma sekarang ini adalah manusia yang sistem kekejaman algoritma menentukan juga siapa yang dapat layak memperoleh pekerjaan yang tentunya dirancang khusus dan ditentukan oleh sensor digital.
Kecanggihan teknologi digital terjadi eksploitasi buruh data yang terjadi di beberapa negara seperti di negara Kenya, Filipina, dan India. Para pekerja ini dibayar dengan biaya kurang dari $2 USD per jam, tugas mereka bayangkan hanya untuk menyaring konten-konten dari kekerasan, pornografi ekstrim atau ujaran kebencian, dengan tujuan AI tetap aman. Dengan demikian, mereka yang bekerja ini kerapkali disebut sebagai kaum dalit digital yang melakukan pekerjaan kotor dan traumatis demi kepentingan kenyamanan kelas kapitalisme global. Hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat.
Teologi Pembebasan digital berupaya untuk mengatasi ketidakseimbangan ini. Untuk mengatasi problem ini, kita membutuhkan pendekatan teologi pembebasan dan diintegrasikan dalam kritik sosio-teknologi. Dari upaya pendekatan ini melihat algoritma bukan saja sebagai entitas netral, melainkan sebagai manifestasi dosa struktural yang telah melestarikan ketidakadilan ini.
Kita perlu lebih dalam mengetahui tentang penjara algoritma ini yang tentunya digerakkan oleh kau kapitalisme yang dipelopori raksasa teknologi. Kita sebagai manusia yang berratio (berakal) memerlukan perhatian ekstra untuk merevolusi kesadaran etis dan spiritualnya supaya teknologi jangan sampai mendominasi masa depannya.
Penjara algoritma dan berbagai tumpukan pernyataan diatas telah didegradasikan manusia dari yang sebelumnya disebut sebagai Imago Dei menjadi sekedar komoditas data yang kapan saja bisa dibuang begitu saja tanpa memperdulikan martabat kemanusiaan kita. Peringatan keras bahwa jangan sampai kita terus terlena dengan mudahnya kepada algoritma dan memenjarakan Kita sebagai manusia yang bebas.
Mari kita bersama membangun suatu sikap yang menolak pemrograman kode yang dengan leluasanya mendikte kemanusiaan kita, sebab kita telah terjerumus didalamnya yang melegitimasi sistem kasta baru dan bahkan jauh lebih sulit diruntuhkan karena sistem itu sedang bersembunyi dibalik layar ponsel kita masing-masing.
Sadarlah bahwa tindakan menolak penjara algoritma ada suatu bentuk tindakan iman, yang berupaya untuk merebut kembali martabat kemanusiaan kita dan menegaskan pada diri sendiri bahwa kita adalah ciptaan Allah yang mulia, serta menolak berhala-berhala algoritma yang adalah Dalit modern.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







