Oleh: Ferdinandus Darwin
Dewasa ini berkembang suatu gagasan bahwa alam hanyalah latar belakang kehidupan, sumber bahan baku atau sekadar pemandangan yang indah. Namun, bagi para teolog dan para pelopor ekoteologi, khususnya Thomas Berry, pandangan ini terlalu sempit dan keliru. Berry mengajarkan satu gagasan mendalam, yakni alam adalah separuh dari jiwa manusia. Artinya, kehidupan manusia tidak terpisahkan dari alam semesta, manusia tidak berada di luar alam, melainkan berada di dalamnya; manusia juga bukan penguasa, melainkan bagian dari satu tubuh besar yang hidup. Bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan rumah bersama yang di dalamnya terdapat keterkaitan batiniah dan rohaniah antara manusia dan seluruh makhluk.
Gagasan yang dikemukakan Berry ini menjadi landasan penting untuk memahami krisis ekologis yang kita hadapi saat ini. Menurutnya, kerusakan lingkungan bukan hanya masalah fisik atau teknis, tetapi juga krisis identitas manusia. Ketika manusia merusak alam, sesungguhnya ia sedang merobek separuh dari jiwanya sendiri. Jika alam sakit, maka manusia pun akan menderita, karena alam dan manusia adalah satu kesatuan. Pesan ini pun senada dengan ajaran yang tertuang dalam ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus.
Dokumen ini menegaskan bahwa alam semesta tidak dipandang sebagai benda mati yang siap dieksploitasi atau hanya sekadar dipandang sebagai barang dagangan semata. Laudato Si mengingatkan bahwa bumi adalah saudara kita dan rumah kita bersama yang perlu dijaga dengan kasih. Kerusakan lingkungan adalah cerminan langsung dari kegagalan manusia dalam menjalani relasi yang benar, baik dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta, atau dengan lain kata krisis lingkungan adalah bagian dari krisis spiritual manusia. Manusia tidak bisa mengklaim hidup baik apabila ia menghancurkan dunia tempat dirinya hidup, ada dan bergerak.
Lebih lanjut, jika Thomas Berry dan Laudato Si berbicara tentang hubungan dan kasih antara manusia dan alam, maka Hans Jonas, seorang filsuf dan teolog Jerman-Amerika keturunan Yahudi hadir dengan kerangka etika yang menegaskan tanggung jawab manusia akan alam semesta di masa depan (etika tanggung jawab masa depan). Dalam gagasannya perihal etika tanggung jawab masa depan, Jonas mengingatkan bahwa tindakan kita hari ini memiliki jangkauan dampak yang jauh ke masa depan. Di masa lalu, etika hanya berkutat pada gagasan antroposentrisme. Artinya, etika hanya mengatur hubungan antar manusia semata dan manusia dipandang sebagai pusat segalanya dan mengabaikan aspek lain di luar dirinya termasuk alam semesta tempat dirinya berpijak.
Konsep ini berkembang sampai dengan saat ini, di mana teknologi dan kekuasaan manusia modern telah mengubah segalanya. Saat ini juga manusia memiliki potensi untuk mengubah bahkan menghancurkan dasar kehidupan di bumi. Oleh karena itu, gagasan dasar Jonas menjadi sangat relevan: wajib bertindak sedemikian rupa sehingga akibat tindakanmu sesuai dengan kelangsungan kehidupan manusia sejati di bumi. Memandang alam sebagai separuh jiwa berarti kita tidak berhak mengorbankan masa depan demi keuntungan sesaat. Tanggung jawab kita bukan hanya kepada generasi sekarang, melainkan juga kepada mereka yang belum lahir, yang berhak mendapatkan bumi yang layak huni.
Pandangan Barat yang acap kali memisahkan manusia dari alam, dapat diperkaya oleh kearifan lokal yang diangkat oleh Leanne Whyte Jr. seorang pemikir dan peniliti yang menyoroti perspektif masyarakat adat. Ia menekankan konsep koneksi ekologis dan budaya yang dalam. Bagi masyarakat adat, alam bukanlah objek, melainkan komunitas yang berisi kerabat; ada hubungan kekeluargaan dengan sungai, hutan, gunung dan hewan.
Konsep ini sejalan dengan gagasan Berry bahwa alam adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Whyte mengingatkan bahwa melindungi alam sama artinya dengan melindungi identitas, budaya dan kesejahteraan manusia itu sendiri. Ketika kita memahami bahwa alam adalah rumah kita bersama, maka kita tidak akan berani merusaknya, sama seperti kita tidak akan membakar atau merobohkan rumah tempat keluarga kita hidup, ada dan bergerak. Kerusakan alam adalah bentuk kekerasan terhadap kerabat kita sendiri.
Pemahaman ini semakin diperkuat oleh pandangan Mary Evelyn Tucker, seorang ahli agama dan ekologi yang berperan penting dalam mengembangkan kosmologi ekologis. Tucker menegaskan bahwa kita perlu mengubah kisah besar tentang siapa diri kita dan apa hubungan kita dengan alam semesta. Ia berpendapat bahwa krisis lingkungan berakar dari krisis cerita: kita terjebak dalam pandangan bahwa alam adalah sumber daya semesta.
Mengambil inspirasi dari Thomas Berry, Tucker mengajak kita untuk menyadari bahwa alam semesta adalah komunitas yang saling bergantung. Kita adalah bagian dari proses kosmis yang terus berlangsung dan setiap makhluk memiliki nilai hakiki. Merawat alam berarti merawat jaringan kehidupan yang menopang keberadaan kita semua. Dalam pandangannya, etika lingkungan tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi harus lahir dari rasa kagum dan penghargaan mendalam bahwa kita hidup dalam rumah bersama yang indah dan sakral.
Menghubungkan seluruh pandangan ini, terlihat jelas bahwa gagasan alam adalah separuh dari jiwa manusia, bukan sekadar puisi dan khayalan semata, melainkan panggilan mendasar. Thomas Berry membuka mata kita tetang keterhubungan batin; Ludato Si menguatkan panggilan untuk menjaga rumah denga kasih; Hans Jonas mengingatkan beban tanggung jwab kita terhadap masa depan alam semesta; Leanne Whyte Jr. mengajarkan kearifan kekeluargaan dengan alam dan Mary Evelyn Tucker mengajak kita untuk hidup selaras dengan alam semesta.
Saat ini, duduk persoalan yang kita hadapi adalah mewujudkan pemahaman ini ke dalam tindakan nyata. Jika alam adalah separuh jiwa kita, maka merusak alam sama dengan melukai diri sendiri. Menjaga kelestarian hutan, sungai dan udara bukanlah sekadar kewajiban teknis, melainkan kewajiban etis dan rohani. Kita harus sadar bahwa apa yang kita lakukan terhadap alam, pada akhirnya kita lakukan pula kepada sesama manusia dan generasi mendatang. Rumah bersama ini hanya akan tetap indah dan layak huni jika kita menyadari sepenuhnya: kita dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Alam bukanlah objek yang siap untuk dieksploitasi, melainkan subjek yang harus dijaga harkat dan martabat, serta keindahannya.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







