Merancang Agenda Pemakzulan Trump

oleh -134 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Kunjungan Presiden Amerika Serikat ke negeri Cina harus siap menghadapi rasa malu, hingga ditertawakan para pejabat tinggi di negeri tirai bambu itu. Hal tersebut mengingatkan kita, saat menyaksikan film peraih Oscar tahun ini, One Battle After Another yang disutradarai oleh Paul Thomas Anderson. Film tersebut menggambarkan pemihakan terhadap gerakan revolusioner, mengenai kehidupan masa lalu Bob Ferguseon (Leonardo DiCaprio), seorang aktivis yang memilih mengasingkan diri dari keramaian masyarakat modern. Ia bertahan hidup di pengasingan bersama puterinya, Willa (Chase Infiniti) yang juga mewarisi darah pemberontakan terhadap Pemerintah Amerika Serikat.

Kehidupan keluarga Bob yang mulai tenang, tiba-tiba terusik ketika musuh lamanya di dunia pergerakan, Kolonel Steven J. Lockjaw (Sean Penn), kembali bangkit dan merancang kiprahnya di dunia politik. Ia merencanakan untuk menculik dan menghabisi Willa yang memiliki garis DNA sebagai anak kandungnya. Konflik dan hubungan masa lalu yang dikira sudah usai, kini kembali menghantuinya. Kehilangan Willa sebagai anak semata wayang, membuat Bob keluar dari masa persembunyiannya untuk kembali menghadapi Lockjaw sebagai rival masa lalunya. Bob bersatu kembali bersama kawan-kawan lamanya, termasuk seorang aktivis yang kini sudah berkiprah selaku mentor bela diri. Mereka bersatupadu untuk menghentikan Lockjaw, meski kemudian harus menghadapi mantan sekutu Bob, Perfidia Beverly Hills yang tidak lain adalah ibu kandung Willa.

Film ini menyiratkan perilaku bangsa-bangsa dunia saat ini, seakan hidup dalam negara polisi fasis. Paul Anderson selaku sutradara, berhasil menampilkan suatu perang sipil yang dipicu oleh gejala-gejala kejiwaan masyarakat hiper modern, seakan sedang mengalami delusi massal. Tak ubahnya tokoh utama dalam novel Pikiran Orang Indonesia (baca: “Membangun Akal Sehat”, Kompas, 24 April 2018), ketika perburuan dan pembunuhan politik dapat dilegitimasi oleh negara, bagaikan sosok Ramses II (Firaun) yang ketakutan akan munculnya generasi muda yang kelak menggantikan kursi kekuasaannya. Dengan demikian, sang penguasa membutuhkan kejahatan untuk mendefinisikan dirinya sebagai kebaikan.

Paul Thomas Anderson dinilai banyak kalangan telah membenarkan dan memvalidasi delusi massal. Beda dengan filmnya terdahulu, seperti The Master, Inherent Vice maupun Phantom Thread. Tetapi, One Battle After Another lebih menonjolkan pria kaum putih yang gila kekuasaan, laiknya seorang pecandu narkoba yang bersikap angkuh dan sombong, sekaligus rasis. Seakan merasa dirinya sebagai manusia unggul yang berhak mengorbankan para kulit berwarna, namun ingin ditempuh dengan cara-cara sah dan konsitusional.

Untuk itu, Kolonel Lockjaw berjuang menaikkan pamornya dengan memaksakan diri bergabung dengan “elit global” selaku supremasi kulit putih yang mengendalikan segalanya di Amerika Serikat. Dia pun berupaya menyingkirkan bukti, bahwa dia telah “mengotori” alat kelaminnya dengan seorang wanita kulit hitam. Karakter Lockjaw tidak memiliki sisi kemanusiaan sama sekali, karena ia bersikap fanatik dan antipati terhadap ras kulit berwarna, sementara dia sendiri memiliki anak biologis dari hubungannya dengan wanita kulit hitam. Akhirnya, lewat perjalanan waktu, ia pun berhadap-hadapan dengan anak kandungnya sendiri.

Doktrin kiri cukup kental dalam pesan One Battle After Another. Ia seakan tidak terikat oleh aturan apa pun, termasuk beberapa lelucon tentang aktivis modern, menggambarkan sosok “Yesus Feminis” yang menjelma dalam revolusi kaum kiri. Negara polisi fasis dianggap sebagai lelucon mengenai penjajah-penjajah kesiangan, bahkan nekat menembaki para demonstran yang berkumpul dengan dalih mereka sebagai penganut ajaran fasisme Hitler.

Memang, sejak 2016 banyak warga Amerika Serikat yang menyebut Trump sebagai fasis. Delusi massal itu akhirnya berujung pada upaya pemakzulan dan dakwaan pidana bagi Trump, setelah ia lengser nanti. Saat ini, dia hanya didampingi bawahan yang loyal, dan sebagian masih memandang orang-orang imigran dan kulit berwarna sebagai ancaman serius bagi warga kulit putih Amerika Serikat.

Secara implisit, film One Battle After Another menyiratkan Partai Republik yang semakin terpojok. Partai Demokrat melihat kebesaran Amerika yang digadang-gadang Trump sebagai utopia belaka. Trump merasa kesulitan untuk bangkit, terutama ketika kelompok kiri memanfaatkan media sosial untuk menjelek-jelekkan, merendahkan martabat, dan menyalahkan kelompok kanan atas kegagalan mereka. Ditambah lagi dengan isu-isu Islamophobia yang dianggap tak masuk akal.

Ketika Trump tampil ke kursi kekuasaan beberapa tahun lalu, tentu dibutuhkan banyak waktu untuk membuktikan kepada bangsanya, bahwa mereka adalah pihak yang lebih baik. Tuduhan “fasis” yang disematkan di pundak Trump dan kelompok kanan akan semakin berat tanggungannya, saat ia menyaksikan film brillian garapan Paul Anderson tersebut.

Dari pemilihan pemainnya sudah dapat ditebak, bagaimana sang sutradara menghendaki dunia sineas terkagum-kagum, bahkan terpingkal-pingkal menyaksikan ulah Kolonel Lockjaw yang konyol, seakan ingin disejajarkan ke dalam kelas dan golongan para elit global. Lalu, ia memanfaatkan cara-cara militerisme untuk menghalalkan segala obsesinya di tampuk kekuasaan.

Kritik atas propaganda kekuasaan di dunia militerisme, telah dikemas dengan cara-cara satir dan jenaka, namun tidak mengurangi penggambaran sang totaliter yang sesungguhnya. Tak ayal, banyak kritikus menyukai film ini, bahkan memujinya sebagai simbol perlawanan kaum tertindas. Ia mampu menawarkan jawaban mudah untuk kisah konspirasi yang rumit. Ia juga sanggup menciptakan “garis pemisah” antara perilaku jahat dengan kebaikan ala Robinhood yang membela rakyat marjinal.

Tarik-menarik antara cinta dan benci, seakan mengingatkan kita pada kisah cinta di tengah pertempuran dalam novel A Farewell to Arms (Ernest Hemingway). Tampak berbeda dengan nuansa film Joker (nominator best picture 2020) yang terang-terangan menceramahi kelas pekerja, betapa jahatnya iklim kapitalisme dan neo-kolonialisme dengan perangkat sistem yang melindunginya.

Tetapi, One Battle After Another banyak dipuji kritikus justru karena mudah dicerna oleh semua kalangan. Ia lebih menampilkan karakteristik tokoh yang menciptakan garis pemisah antara nilai kemanusiaan, berhadapan dengan ambisi dan nafsu kebinatangan.

Kiranya tepat apa yang dinyatakan banyak pengamat sineas akhir-akhir ini, bahwa film peraih Oscar tahun ini telah menemukan frekuensinya yang selaras dan sesuai dengan pesan-pesan semesta. Ketika Kolonel Lockjaw tampil sebagai sosok Dajjal yang berambisi meraih tangga-tangga kekuasaan di dunia hiper modern, akan senantiasa diimbangi dengan kemunculan Bob Ferguson sebagai Sang Mesias atau Satrio Piningit, yang akan berjuang menyuarakan pesan-pesan ilahiyah (kebaikan).

Dan pada akhirnya, perjuangan demi menegakkan kebenaran dan keadilan, akan selalu memenangkan pertempuran melawan kejahatan dan kebatilan. Sehebat apa pun mereka merancang siasat dan tipu muslihat, pada akhirnya hanya Allah Sang Perancang agenda terbaik, yang pasti mengalahkan rancangan agenda kejahatan, yang diperbuat oleh makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Kini, dunia sineas Hollywwod tampil selaku sang Mesias yang membawa nubuat, serta bersiap-siap merancang runtuhnya arogansi kekuasaan negerinya sendiri. (*)

Penulis adalah Dosen dan peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga penulis esai dan prosa untuk media-media nasional dan jurnal-jurnal kampus

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.