Oleh: Brilian Lobang Tang
Peradaban umat manusia berkembang pertama-tama karena adanya rasa kekaguman dan ketagjuban terhadap realitas yang dihidupi sebelum adanya konsep pemahaman tentang realitas. Hal inilah yang kemudian didefinisikan oleh Rudolf Otto, mysterium tremendum et fascinans, menakjubkan sekaligus menggetarkan. Pembicaraan tentang Tuhan mencapai puncaknya pada abad pertengahan dan kemudian dikritik pada abad modern. Kritik di abad modern menjadi suatu realitas yang sebenarnya tak adapat disangkal sebab kehidupan manusia begitu kompleks, dengan berbasiskan pemahaman tentang kemanusiaan, sebab manusia bukanlah malaikat ataupun setan dalam pandangan religius. Meskipun begitu di dalam diri manusia terdapat kedua hal ini yang kemudian dalam gereja disebut sebagai religious sense.
Dalam konteks saat ini di tengah perkembangan teknologi, persoalan eksistensial menjadi lebih kompleks. Kompleksitas persoalan ini pun dirasakan oleh setiap orang tanpa terkecuali, apalagi dengan arus informasi yang tidak terbendung manusia modern semakin kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya. Di tengah tanah perantauan, hidup sebagai orang asing dan mendapat status sosial menjadi anak kos menjadi suatu panggilan yang cukup penting dan unik sebab di dalam status itu termaktub suatu cita-cita yang luhur dari perjalanan eksistensialnya sebagai seorang manusia, bukan sekedar mencari uang ataupun kuliah. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana anak kos mewujudkan dirinya sebagai homo religious sekaligus memaknai perjalannan eksistensialnya sebagai manusia seutuhnya.
Siapa Tuhan bagi Anak Kos?
Dalam perjalanan penulis yang awalnya sebagai seorang religius dan kemudian memutuskan untuk keluar, lalu hidup sebagai anak kos, mendapat suatu pencerahan baru dalam pandangan penulis tentang kehidupan ini. Hidup sebagai seorang religius terkadang Tuhan diangap sebagai suatu idea yang begitu abstrak yang kemudian dimaknai dalam kehidupan real, sehingga ketika perjalanan itu tidak dimaknai lagi kebosanan melanda diri dalam menjalani hidup sebagai seorang religius. Persoalan inilah yang kemudian diangkat Friedrich Nietzsche dalam karyanya, yang kemudian dilihat oleh gereja sehingga Pada tahun 1879 Paus Leo XII menulis “Ensiklik Aeterni Patris”. Friedrich Nietzsche melihat bahwa kaum religius terlalu memfokuskan diri pada hal religius sampai melupakan dunia tempat dia hidup, seolah-olah manusia adalah malaikat.
Setelah menjadi anak kos, perlahan pandangan tentang Tuhan mulai berubah dan tak pasti. Tuhan kerap kali direduksi sebagai Tuhan Materialis, dimana Tuhan itu adalah ujung dari pencapaian karier ataupun sekedar demi memenuhi kebutuhan fisik saja. Pereduksian ini terjadi ketika kebutuhan fisiologis menjadi hal yang dominan dalam kehidupan sebagai anak kos, sehingga aktualisasi diri sebagai seorang manusia tidak begitu penting lagi yang kemudian melahirkan pesimisme religius dalam hidup.
Hal inilah yang disampaikan oleh Abraham Maslow tentang Hirarki kebutuhan, dimana kebutuhan yang bersifat nir indrawi (aktualisasi diri) akan terpenuhi jikalau kebutuhan fisik benar-benar terpenuhi. Namun Maslow tidak dapat mengingkari bahwa memang ada orang yang mampu mewujudkan kebutuhan nir indrawi atau mengaktualisasikan dirinya seperti cinta, kebutuhan religius, dll, tanpa terpengaruh oleh kebutuhan fisiologis itu.
Tuhan Materialis inilah yang kemudian didefinisikan oleh Karl Marx bahwa kebutuhan ekonomi menjadi realitas yang menopang cara bereksistensi manusia. Tuhan yang awalnya bersifat imanen perlahan-lahan dibunuh oleh anak kos di tengah arus kebutuhan ekonomi yang tak menentu, Tuhan idealis digantikan dengan Tuhan Materialis. Tuhan idealis dan imanen seolah-oleh hanya berada dalam kesadaran yang bisa diadakan ketika dibutuhkan, jika tidak akan digantikan.
Kehadiran teknologi, melalui gadget membuat persoalan ini menjadi lebih kompleks, Tuhan menjadi lebih cepat dibunuh dan dibungkus dalam story-story di dalam medsos. Tuhan yang eksistensial beralih ke dalam sentuhan jari. Pergeseran eksistensial kepada homo digitalis mengabaikan cara berada real sehingga perlahan potensi perwujudan diri terhambat. Maka Tuhan yang awalnya imanen dan transenden perlahan diubah menjadi Tuhan meterialis yang bersifat pragmatis.
Bagaimana Tuhan Dibunuh?
Esensi Tuhan yang direduksi dalam materialisme rasanya menjadikan hidup kehilangan makna dan tujuan yang lebih adikodrati atau mengabaikan religius sanse dalam diri manusia. Di satu sisi Tuhan yang ditempatkan sangat idealis akan mengabaikan aspek manusiawi dalam diri manusia. Persoalan ini menciptakan ambiguitas dan membuat manusia sering kehilangan arah bahkan pesimis dengan kehidupan ini.
Hal ini mengharuskan manusia untuk menempatkan diri secara seimbang dan lebih sempurna tanpa mengabaikan kedua persoalan itu, dan ini adalah perjalanan eksistensial yang akan terus dicarai sepenjang hidup manusia. Semua ini tergantung pada pribadi seseorang sebagaimana yang ditegaskan oleh Søren Kierkegaard yakni “Kebenaran yang sejati adalah kebenaran yang dihayati secara pribadi.”
Semua problem ini bergantung pada setiap orang tanpa mengabaikan aspek universalia dari pencarian eksitensial manusia. Tuhan yang didefinisikan sebagai sebab dan tujuan eksistensial oleh kaum religius sebanarnya adalah Tuhan yang eksistensial, maksudnya adalah Tuhan yang imanen sehingga setiap perjalanan harus dimaknai. Hal ini jugalah yang menjadi penyebab Tuhan dibunuh, sebab setiap langkah perjalan kehidupan sangat menentukan pandangan setiap orang tentang Tuhan. Tuhan juga sebanarnya dibunuh oleh tindakan kongkret manusia yang dilakukan tanpa dimaknai secara eksistensial demi tujuan yang lebih tinggi bukan sekedar hal-hal reme temeh seperti kebutuhan fisiologi.
Tuhan idealis dan Tuhan materialis ditentukan oleh manusia lewat tindakan kongkretnya. Keduanya bergantung pada cara berada manusia sehingga kata kunci dalam persoalan ini sama yakni kebiasaan manusia. Kebiasaanlah yang membunuh Tuhan dalam kehidupan sebagai anak kos sehingga hidup itu kehilangan maknanya. Hidup harian tidak dimaknai sehingga berlalu begitu saja dan arah tujuan hidup pun menjadi kabur. Maka, solusi yang ditawarkan adalah kedisiplinan dalam hidup sebagai anak kos dengan tidak mengabaikan aspek-aspek yang melekat dalam diri manusia sehingga aturan hidup yang kongkret sangat dibutuhkan.
Apakah Tuhan Benar-benar Dibunuh?
Sebanarnya maksud dari Friedrich Nietzsche jika dikontekskan saat ini, Tuhan tidak betul-betul dibunuh melainkan digantikan. Jika ditelaah lebih jauh religious sense sebenarnya ada dalam diri setiap manusia sehingga semuanya bergantung dari setiap orang, apakah dia akan menyangkalnya seperti kaum ateis atau menjadikannya seperti barang oleh kaum pragmatis ataupun sekedar percaya begitu saja sebagaimana kaum agnotisisme. Tuhan Kaum beragama harus dimaknai secara eksistensial agar tidak radikal atau dalam bahasa agama disebaut moderat tanpa mengabaikan aspek kemanusian dalam diri setiap orang.
Dalam kehidupan sebagai anak kos, Tuhan sebanarnya hanya dibunuh dalam konsep pemikiran sehingga perlahan cara beradapun berubah namun hal itu tidak menentu sebab manusia bisa berubah kapan saja. Perasaan religius itu tidak dapat disangkal sebagaimana seperti Jean Paul Satre yang melihat Tuhan penyebab manusia tidak dapat mengembangkan aspek dalam dirinya secara sempurna, sebab Tuhan hadir dalam proses eksistensial kehidupan manusia.
Satre mengandaikan bahwa manusia adalah kertas putih yang harus di tulisnya sendiri, dia mengabaikan aspek historis dalam diri manusia, namun sebanarnya setiap orang adalah karya yang sangat indah dari sejarah sehingga kehidupannya harus dimaknai. Ada suatu roh absolut yang membimbing manusia untuk mengenal yang tertinggi dalam perjalan eksistensial kehidupannya. Maka, Tuhan sebenarnya tidak terbunuh melainkan tidak disadari dalam kehidupan setiap orang. Oleh karena itu, aspek hirarki kebutuhan tidak sepenuhnya menjadi penyebab ketidakmampuan seseorang untuk mengaktualisasikan diri manusia.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







