Menghidupi Politik sebagai Ungkapan Tertinggi dari Cinta Kasih

oleh -150 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Semilir angin malam berhembus menyapu gerahnya cuaca peralihan musim di ketinggian Oepoi Kota Kupang malam itu, puluhan politisi katolik dari berbagai latar belakang partai politik di DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bercengkerama dalam selimut silaturahmi bersama Yang Mulia Uskup Agung Keuskupan Agung Kupang Monsinyur Hironimus Pakaenoni.

Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawan) Keuskupan Agung Kupang RD. Leo Mali yang menginisiasi acara silaturahmi politisi katolik di lingkup DPRD Provinsi NTT pada Jumat (8/5/20026) malam di Istana Keuskupan yang dihadiri langsung Uskup Keuskupan Agung Kupang Monsiyur Hironimus Pakaenoni yang genap dua tahun menerima thabisan episkopal.

RD. Leo Mali dalam kata sapaan pembuka menegaskan bahwa panggilan kaum awam sebagai bagian utuh dari perutusan Gereja di tengah dunia sebagaimana Konsili Vatikan II melalui Apostolicam Actuositatem bahwa dasar kerasulan awam adalah persatuan dengan Kristus Sang Kepala Gereja (AA, art. 2) melandasi silaturahmi yang berlangsung dalam suasana santai penuh keakraban.

“Pertemuan hari ini mengingatkan kita akan panggilan kaum awam sebagai bagian utuh dari perutusan Gereja di tengah dunia. Konsili Vatikan II melalui Apostolicam Actuositatem menegaskan bahwa dasar kerasulan awam adalah persatuan dengan Kristus Sang Kepala Gereja (AA, art. 2). Dalam artikel 3 ditegaskan bahwa kerasulan dijalankan dalam iman, harapan, dan cinta kasih yang dicurahkan Roh Kudus ke dalam hati umat beriman (AA, art. 3; bdk. Rom. 5:5). Karena itu, seluruh kehidupan awam—keluarga, pekerjaan, budaya, ekonomi, dan politik—menjadi ruang nyata kesaksian Injil. Pandangan ini senada dengan Lumen Gentium yang menegaskanbahwa kaum awam dipanggil untuk “mencari Kerajaan Allah dengan mengurus hal- hal duniawi dan mengaturnya sesuai kehendak Allah” (LG, art. 31),” tegas Dosen Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang.

Spiritualitas kerasulan awam berakar pada Sabda Tuhan: “Apapun juga yang kamu perbuat dalam perkataan atau perbuatan, perbuatlah semuanya itudalam nama Tuhan Yesus” (Kol. 3:17). Kerasulan bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi cara hidup yang menguduskan dunia dari dalam. Tujuannya ialah keselamatan manusia dan pembaruan masyarakat sesuai kehendak Allah. Dalam konteks ini, karya cinta kasih menjadi “meterai” kerasulan Kristiani, sebab dunia mengenal murid-murid Kristus melalui kasih mereka satu sama lain (Yoh. 13:35).

“Hal ini dipertegas dalam Deus Caritas Est yang menegaskan bahwa pelayanan kasih merupakan bagian hakiki dari misi Gereja (DCE, art. 25). Semangat yang sama ditegaskan pula oleh Christifideles Laici bahwa kaum awam adalah garam dan terang dunia melalui kesaksian hidup sehari-hari (CL, art. 15). Bidang kerasulan awam sangat luas: dalam Gereja, keluarga, pendidikan kaum muda, lingkungan sosial, ekonomi, hingga politik,” ujarnya.

Apostolicam Actuositatem artikel13 menegaskan bahwa keterlibatan dalam bidang sosial-politik adalah tugas khaskaum awam yang tidak dapat digantikan oleh kaum tertahbis. Sejak Gereja perdana, kaum awam telah mengambil bagian penting dalam pewartaan Injil, sebagai manatampak dalam pelayanan Priskila dan Akwila bersama Paulus (Kis. 18:18–26). Dalam Evangelii Gaudium ditegaskan bahwa iman sejati selalu mengandung kerinduan untukmengubah dunia dan membangun masyarakat yang lebih manusiawi (EG, art. 183),” tandas Leo Mali.

Doktor Filsafat Sejarah pada Pontificio Università Urbaniana Roma itu, mengatakan bahwa dalam kacamata Iman katolik, politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan, melainkan terutama sebagai sebuah pelayanan demi kesejahteraan bersama (bonum commune).

“Dalam Fratelli Tutti artikel 180, bahkan Sri Paus Fransiskus mengutip Pius XI dengan menyebut politik sebagai “la più vastaforma della carità”—bentuk tertinggi/paling luas dari cinta kasih—karena melalui politik kasih kepada manusia diperjuangkan. Anda yang berkecimpung dalam politik, selalu berurusan dengan persoalan keadilan sosial, martabat manusia, dan kesejahteraan masyarakat luas sebagai bentuk karitas sosial. Gagasan ini selaras dengan Gaudium et Spes yang menegaskan bahwa Gereja berjalan bersama sukacita, harapan, duka, dan kecemasan umat manusia (GS, art. 1), serta bahwa kesejahteraan umum harus menjadi tujuan kehidupan sosial-politik (GS, art. 74),” tegas Leo Mali.

Ia menegaskan bahwa bersama para imam, kaum awam, termasuk para politisi, menjadi saksi di “altar dunia”, agar masyarakat semakin dibangun dalam kasih, keadilan, dan persaudaraan (AA. Art. 25). dan dunia semakin mengenal Kristus dan memuliakan nama-Nya (bdk. Mat. 5:16).

“Untuk itulah hari ini kita bertemu,” tandas Leo Mali.

Sementara, Yang Mulia Uskup Agung Kupang menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terlaksananya acara silaturahmi bersama para politisi katolik khususnya yang berada di lingkup DPRD Provinsi NTT, semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk keterlibatan awam katolik khususnya para politisi dalam perjuangan membangun pembangunan sumber daya manusia melalui transformasi pendidikan yang menjadi salah satu fokus utama keuskupan dalam membangun peradaban baru di tengah modernisasi dunia yang sangat cepat berubah.

“Apresiasi dan terima kasih kita bisa bertemu malam ini yang menjadi awal pergerakan awam katolik khususnya para politisi di dalam tugas pelayanannya melalui transfomasi pendidikan yang menjadi fokus utama keuskupan Agung Kupang, sesuai hasil musyawarah pastoral tahun lalu,” kata Uskup.

Uskup Pakaenoni juga berharap politisi katolik tidak eksklusif hanya mengurus umat katolik tetapi seluruh masyarakat demi terwujudnya bonum commune melalui kebijakan politik dan pembangunan yang demokratis dan adil bagi semua.

Para politisi yang hadir diantaranya Leo Lelo (F. Partai Demokrat), Kristo Loko (PAN), Agus Nahak (F. Partai Golkar) Johan Oematan ( F. Partai Golkar), Ibu Simprosa R Gandut (F. Partai Golkar) Polce Lobo (PERINDO), Kasimirus Kolo (F. Partai NasDem), Ibu Sheline Lana (Partai Hanura), Alex Ofong (F. Partai NasDem), Ambros Reda (F. Partai Golkar), Celly Ngganggus (F. PKB), Ibu Lily Adoe (F. PDIP), Paul Y.N.Veto (Partai Hanura), Beny Chandra (F. Partai Gerindra), Hiro Banamfanu (F. PDIP), Ibu Angela Merci Piwung (F. PKB), Viktor Mado Watun (F. PDIP), Boni Burhan (F. Partai Gerindra), Patris Laliwolo (F. PDIP), Simon Guido Seran (F. Partai Demokrat), Agustinus Bria Seran (F. Partai Gerindra), Ibu Jimur Siena (PAN), Yohanes De Rosari (F. Partai Golkar), Antonius D. Mahemba (F. Partai Golkar), Marinus Manis (F. PSI), Oktafianus Moa Mesi, (F. Partai NasDem), Inocensius Fredy Mui (F. Partai NasDem), Don Bonito Jebarus (F. Partai Demokrat), Fernando Soares (F. Partai Gerindra), Ibu Ana Waha Kolin (F. PKB), Hans Rumat (F. PKB).

Mereka bersepakat untuk terus terlibat dan berkontribusi melalui kerja karitatif dan memperjuangkan kebijakan politik melalui lembaga DPRD bersama pemerintah yang berdampak luas terhadap pengembangan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya di Keuskupan Agung Kupang khususnya dan NTT pada umumnya. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.