Tubuh di Balik Komoditas Seksualitas

oleh -175 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Efridus Rebo Ona

Dunia dewasa ini, tubuh adalah wajah baru dari sistem ekonomi global yang kini merambah pada ruang privat manusia. Tubuh tidak lagi sekadar sebuah identitas biologis, melainkan aset ekonomi yang terus dipertaruhkan di ruang digital. Fenomena ini terlihat sangat jelas pada platform digital seperti TikTok dan Facebook Pro, di mana sistem live gifting memungkinkan penonton memberikan hadiah virtual yang dapat dikonversi menjadi uang. Sensor Tower (2024) mencatat TikTok sebagai salah satu aplikasi dengan pendapatan tertinggi berkat fitur ini.

Budaya gift menciptakan dorongan bagi konten kreator untuk terus menampilkan tubuh mereka demi interaksi dan keuntungan. Tubuh yang seharusnya bermakna personal dan spiritual direduksi menjadi konten yang dijual demi keuntungan. Tubuh yang seharusnya menjadi ruang sakral kini terjebak dalam logika pasar digital. Kapitalisme digital tubuh membuka pintu bagi praktik objektifikasi yang lebih masif, karena tubuh dipandang sebagai aset ekonomi yang bisa diperdagangkan.

Kapitalisme digital tubuh memperlihatkan bagaimana teknologi memperkuat relasi kuasa. Algoritma media sosial menonjolkan konten yang paling menarik perhatian, sehingga tubuh yang ditampilkan menjadi semakin terjebak dalam siklus komodifikasi. Christian Fuchs (2022) menegaskan bahwa kapitalisme digital bekerja dengan logika data dan algoritma, menjadikan interaksi sosial sebagai komoditas.

Objektifikasi di Media Sosial

Objektifikasi tubuh di media sosial adalah konsekuensi nyata dari kapitalisme digital. Banyak konten kreator menampilkan tubuh mereka untuk memperoleh likes, followers, dan gift. Tubuh diperlakukan sebagai objek visual yang harus menarik perhatian, bukan lagi sebagai identitas yang bermartabat. Dwi Nur Rohim (2025) dalam Jurnal Ilmu Komunikasi UHO menunjukkan bahwa budaya patriarki masih bertahan di dunia digital, menjadikan perempuan seolah tidak berdaya dan hanya sebagai objek pemuas.

Objektifikasi ini tidak hanya menimpa perempuan. Media sosial juga memperlihatkan bagaimana tubuh laki-laki diperlakukan sebagai objek konsumsi. Ayang Astari (2022) dalam Jurnal Studi Masyarakat dan Pendidikan mencatat adanya objektifikasi tubuh laki-laki dalam ekspresi seksual perempuan di media sosial.

Korelasi dengan kapitalisme digital tubuh sangat erat. Algoritma dan sistem hadiah mendorong objektifikasi sebagai strategi untuk meraih keuntungan. Tubuh yang ditampilkan di media sosial bukan lagi ekspresi diri, melainkan bagian dari logika pasar yang mengubah seksualitas menjadi konten konsumsi publik.

Objektifikasi di media sosial juga memperlihatkan bagaimana tubuh kehilangan makna intrinsiknya. Tubuh dipandang semata-mata dari segi visual, tanpa memperhatikan martabat atau nilai spiritual. Hal ini menimbulkan krisis identitas, di mana manusia lebih dihargai karena penampilan fisik daripada kualitas diri yang sejati.

Krisis Martabat Manusia

Ketika tubuh direduksi menjadi komoditas, dampaknya adalah krisis martabat manusia. Nilai intrinsik manusia tergerus oleh logika pasar dan algoritma. Chris Anne (2025) menulis bahwa dalam dunia digital, nilai diri direduksi menjadi metrik dangkal seperti likes dan followers, sehingga terjadi krisis moralitas dan martabat.

Fenomena ini nyata di Indonesia. Krisis martabat tubuh bukan hanya isu digital, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kehidupan sosial. Ketika tubuh diperlakukan sebagai konten, martabat manusia ikut tergerus. Krisis ini memperlihatkan bahwa komodifikasi tubuh tidak hanya merusak nilai spiritual, tetapi juga membawa konsekuensi nyata dalam kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat.

Krisis martabat manusia memperlihatkan bagaimana kapitalisme digital tubuh dan objektifikasi di media sosial berkontribusi pada degradasi moral. Tubuh yang seharusnya dihormati sebagai ruang sakral kini diperlakukan sebagai alat untuk mengejar keuntungan, sehingga manusia kehilangan sebagian dari identitas spiritualnya.

Etika Teologis Kontemporer

Sebagai respons, etika teologis kontemporer hadir untuk mengembalikan tubuh pada makna sakralnya. Teologi tubuh menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai imago Dei atau citra Allah yang memiliki martabat dan kesucian. Pelita Roeroe (2025) menekankan relevansi teologi tubuh sebagai landasan etis bagi generasi Alfa yang dibentuk oleh budaya digital.

Menurut Kristoforus Krisna Setiawan (2025), seksualitas bukan sekadar aspek biologis, melainkan ciri martabat manusia sebagai gambar Allah. Seksualitas adalah ekspresi martabat manusia yang tidak boleh direduksi menjadi komoditas Teologi tubuh hadir sebagai jawaban atas degradasi nilai yang ditimbulkan oleh kapitalisme digital dan objektifikasi media sosial.

Etika teologis kontemporer menjadi jalan untuk melawan eksploitasi tubuh dan mengembalikan makna seksualitas sebagai bagian dari martabat manusia. Etika teologis kontemporer memperlihatkan bahwa tubuh bukan hanya bagian dari sistem ekonomi atau budaya visual, melainkan ruang spiritual yang harus dijaga. Dengan demikian, tubuh sebagai citra Allah yang sakral, bukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.