Menjaga Alam NTT sebagai ‘Tanda’ Kehadiran Tuhan Perspektif Sakramentologi Ekologis

oleh -781 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eduardus Venanchius Deo Ate

Nusa Tenggara Timur (NTT) seringkali dijuluki sebagai tanah yang diberkati, sebuah gugusan pulau di mana denyut nadi religiositas masyarakatnya begitu kental terasa. Di setiap sudut kampung, lonceng gereja berdentang memanggil umat untuk bersimpuh, dan doa-doa melangit dengan khusyuk. Namun, jika kita sejenak menepi dari riuh rendah liturgi di dalam gedung gereja dan memandang ke arah bukit-bukit yang kian gundul di daratan Timor, atau menyisir sumber mata air yang terus mengecil di pegunungan Flores, kita akan menjumpai sebuah ironi besar. Kita sangat fasih merayakan kehadiran Tuhan dalam rupa roti dan anggur di atas altar, namun seolah-olah buta melihat kehadiran-Nya dalam tanah yang kita injak, udara yang kita hirup, dan air yang memberi kita kehidupan.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan akan krisis lingkungan yang kian nyata di Flobamora. Ini bukan sekadar kritik atas kerusakan alam, melainkan sebuah ajakan teologis untuk melihat alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai “ruang sakramental”. Kita perlu membedah kembali relasi iman kita dengan bumi melalui lensa Sakramentologi Ekologis.

Memahami Sakramentologi Ekologis

Secara tradisional, dalam tradisi Kristiani, kita memahami sakramen sebagai tanda lahiriah yang mendatangkan rahmat gaib. Namun, Sakramentologi Ekologis mengajak kita memperluas cakrawala tersebut. Alam semesta ini sebenarnya adalah “Sakramen Primer” atau sakramen yang paling dasar. Jika Tuhan adalah Sang Pencipta, maka seluruh ciptaan-Nya adalah jejak kaki, sidik jari, dan napas-Nya yang bisa kita raba secara indrawi. Sakramentologi Ekologis mengajarkan bahwa dunia materi bukanlah sesuatu yang rendah, kotor, atau sekadar latar belakang bagi keselamatan manusia.

Sebaliknya, materi adalah sarana di mana Yang Ilahi menyatakan diri-Nya kepada kita. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ mengingatkan bahwa seluruh alam semesta adalah sebuah bahasa kasih Tuhan. Maka, ketika sebatang pohon ditebang tanpa tanggung jawab atau laut dicemari oleh sampah plastik, kita sebenarnya sedang merusak “halaman buku” tempat Tuhan menuliskan pesan kasih-Nya kepada umat manusia.

Sakramen dalam Realitas NTT: Membaca Tuhan di Balik Karang dan Sabana

Di bumi NTT, alam bukanlah entitas yang terpisah dari budaya dan iman. Masyarakat kita sejak zaman leluhur telah mengenal konsep kesucian bumi, seperti istilah Lera Wulan Tanah Ekan atau sebutan-sebutan lokal lainnya yang menempatkan alam sebagai ibu yang merawat. Dalam konteks iman, alam NTT sesungguhnya adalah perpanjangan dari altar gereja. Mari kita lihat air. Di desa-desa kita, mata air bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan simbol pembersihan dan kehidupan yang sejajar dengan makna Baptisan.

Menjaga hutan di hulu adalah bentuk syukur atas sakramen baptis yang berkelanjutan. Begitu pula dengan tanah. Tanah yang menumbuhkan jagung, sorgum, dan kopi adalah rahim yang memberi makan umat. Hasil bumi NTT adalah “tubuh” alam yang menghidupi kita, sebuah manifestasi dari Ekaristi yang terjadi di alam terbuka. Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan bahwa kita seringkali gagal melihat “kesucian” di balik materi-materi ini. Kita kerap menganggap alam hanya sebagai “stok barang” yang boleh dikeruk demi kepentingan sesaat, tanpa menyadari bahwa dengan merusaknya, kita sedang memutus saluran rahmat Tuhan sendiri.

Ritualisme vs Realitas: Iman yang Terbelenggu

Salah satu tantangan besar religiositas di NTT adalah jebakan ritualisme. Kita bisa sangat militan dalam menjalankan ritus keagamaan, mengikuti prosesi dengan ribuan massa, namun acuh tak acuh pada perusakan lingkungan di depan mata. Terjadi diskoneksi atau keterputusan yang tajam antara apa yang kita rayakan di altar dengan apa yang kita lakukan di pasar, di kebun, dan di hutan. Kita berdoa memohon hujan saat musim kemarau panjang, namun di saat yang sama kita membiarkan pembakaran lahan terjadi secara masif. Kita memohon berkat kesehatan, namun membiarkan sungai menjadi tempat pembuangan limbah. Ini adalah paradoks iman. Jika kita sungguh percaya bahwa alam adalah tanda kehadiran Tuhan, maka merusak alam adalah sebuah bentuk “penodaan sakramen” (sacrilege). Iman tanpa kepedulian ekologis adalah iman yang mandul; ia hanya menyentuh langit tetapi tidak berpijak pada bumi yang menderita.

Menuju Pertobatan Ekologis Lantas, bagaimana kita melangkah maju? Kita membutuhkan lebih dari sekadar aksi tanam pohon yang bersifat seremonial. Kita memerlukan apa yang disebut sebagai “Pertobatan Ekologis”. Pertama, kita butuh Liturgi yang Membumi. Gereja dan lembaga keagamaan di NTT perlu memasukkan isu pelestarian alam ke dalam katekese, pengajaran iman, dan khotbah-khotbah harian. Menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian hutan harus dipandang sebagai kewajiban iman yang setara dengan doa.

Kedua, mewujudkan Eko-Paroki atau Eko-Komunitas. Komunitas iman harus menjadi teladan dalam pengelolaan sampah, konservasi air, dan perlindungan keanekaragaman hayati. Ketiga, menjadikan Kearifan Lokal sebagai Sekutu. Kita harus menghidupkan kembali tradisi-tradisi adat yang sangat menghormati alam, lalu menyelaraskannya dengan ajaran iman. Adat dan iman di NTT harus berjalan beriringan sebagai garda terdepan pelindung alam, bukan saling meniadakan.

Penutup

Alam sebagai Altar Kehidupan. Menjaga alam NTT bukan sekadar isu politik, ekonomi, apalagi tren semata. Ini adalah panggilan spiritual yang mendalam. Setiap kali kita menjaga satu sumber mata air, setiap kali kita menanam sebatang pohon di lahan kritis, atau setiap kali kita menolak perusakan alam atas nama pembangunan yang serakah, kita sebenarnya sedang merawat “tanda” kehadiran Tuhan di bumi ini.

Marilah kita menjadikan seluruh daratan dan lautan NTT sebagai altar besar tempat kita memuliakan Sang Pencipta. Sebab, ketika alam ini hancur, kita tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan sumber ekonomi, tetapi kita juga kehilangan cermin yang memantulkan kemuliaan wajah Tuhan. Mari kita peluk kembali bumi Flobamora dengan penuh rasa hormat, sebelum tanda-tanda kehadiran-Nya itu hilang ditelan oleh keserakahan dan ketidakpedulian kita sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.