Oleh: Ilhamsyah Muhammad Nurdin
Tulisan ini lahir dari sebuah perjumpaan dan diskusi bersama teman-teman di Padepokan Pasir Putih. Ia tidak dimaksudkan sebagai penjelasan tuntas, apalagi sebagai rujukan final. Justru sebaliknya, tulisan ini disusun sebagai undangan awal yaitu untuk membuka kegelisahan, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membangkitkan lapar intelektual terhadap satu pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya tidak mudah dijawab: apa artinya berpikir secara sadar?
Dalam keseharian, berpikir sering dipahami sebagai aktivitas yang sudah selesai begitu saja. Selama pikiran berjalan, selama kepala dipenuhi isi, kita merasa tugas berpikir telah ditunaikan. Jarang sekali muncul dorongan untuk mempertanyakan bagaimana pikiran itu bekerja, dari mana ia berasal, atau ke mana ia membawa kita. Kita sibuk menggunakan pikiran, tetapi jarang menengoknya.
Padahal, pikiran bukan ruang yang selalu jernih. Ia dipenuhi suara yang saling tumpang tindih: ingatan, emosi, kebiasaan, keyakinan, dan dorongan mempertahankan diri. Semua itu bergerak cepat, sering kali tanpa izin. Kita menyebutnya berpikir, tetapi belum tentu kita hadir di dalamnya.
Diskusi tentang kesadaran berpikir berangkat dari keganjilan ini. Bahwa ada kemungkinan seseorang berpikir tanpa benar-benar sadar bahwa ia sedang berpikir. Pikiran bekerja, tetapi kesadaran tertinggal. Seperti seseorang yang berjalan jauh sambil melamun, dimana tubuh bergerak, tetapi diri tidak sepenuhnya hadir.
Jika demikian, pertanyaan yang layak diajukan bukan “apakah kita berpikir?”, melainkan “sejauh mana kita menyadari pikiran kita sendiri?”. Pertanyaan ini tidak nyaman, karena ia menggoyahkan rasa percaya diri intelektual yang selama ini kita pegang. Ia memaksa kita mengakui bahwa banyak sikap dan pendapat mungkin tidak lahir dari refleksi, melainkan dari kebiasaan.
Dalam ruang diskusi, muncul kesadaran bahwa reaksi sering disalahpahami sebagai berpikir. Ketika seseorang cepat membela pendapatnya, ia dianggap rasional. Ketika seseorang mampu menyerang argumen lain, ia dianggap kritis. Namun, kecepatan dan ketegasan tidak selalu sejalan dengan kesadaran. Bisa jadi yang bekerja hanyalah mekanisme pertahanan diri yang sudah terlatih.
Di titik ini, kesadaran berpikir mulai terasa sebagai sesuatu yang langka. Ia menuntut jeda. Dan jeda adalah hal yang paling sulit dihadirkan, baik dalam percakapan maupun dalam batin. Kita lebih terbiasa menanggapi daripada bertanya, lebih nyaman menyimpulkan daripada menunda penilaian.
Kebiasaan hidup tanpa jeda membuat banyak hal terasa otomatis. Kata-kata terucap tanpa sempat ditimbang. Emosi muncul tanpa sempat dikenali. Pendapat dipegang tanpa sempat diuji. Pikiran terus bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar diperhatikan. Kita hidup di dalam pikiran, namun jarang berdialog dengannya.
Aspek lain yang membuat kesadaran berpikir terasa mendesak adalah soal asal-usul keyakinan. Banyak hal yang kita anggap sebagai hasil pemikiran pribadi ternyata merupakan hasil serapan: dari lingkungan, pendidikan, tradisi, dan pengalaman masa lalu. Kita mewarisi cara menilai dunia, lalu membelanya seolah-olah ia lahir dari perenungan mendalam.
Ketika keyakinan semacam ini disentuh atau dipertanyakan, reaksi emosional sering kali muncul lebih dulu. Tersinggung, marah, atau merasa diserang. Diskusi ini mengusik kemungkinan bahwa yang kita lindungi bukanlah kebenaran itu sendiri, melainkan keterikatan kita padanya. Rasa “merasa benar” bekerja lebih cepat daripada kesadaran untuk memeriksa alasan.
Kesadaran berpikir, dalam konteks ini, bukanlah alat untuk membuktikan siapa yang benar. Ia justru berfungsi sebagai cara untuk menyadari proses internal sebelum sampai pada klaim kebenaran. Ia tidak menjanjikan kepastian, tetapi menawarkan kejujuran terhadap diri sendiri: bahwa tidak semua yang kita yakini telah kita pikirkan secara sadar.
Relasi antara emosi dan pikiran juga menjadi wilayah yang menarik untuk ditelusuri. Emosi sering kali dianggap pengganggu rasionalitas, padahal yang bermasalah bukan emosi itu sendiri, melainkan absennya kesadaran terhadapnya. Ketika emosi muncul dan langsung menjadi tindakan, pikiran kehilangan kesempatan untuk bekerja secara reflektif.
Diskusi ini tidak mengajak untuk mematikan emosi, melainkan untuk mengenalinya. Ada perbedaan besar antara “saya marah” dan “saya menyadari bahwa saya sedang marah”. Perbedaan ini tampak sepele, tetapi justru di sanalah kesadaran berpikir mulai bekerja: pada kemampuan melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri, bukan sekadar larut di dalamnya.
Menariknya, kesadaran berpikir tidak ditawarkan sebagai konsep yang selesai. Ia justru dibiarkan terbuka, setengah matang, bahkan menggantung. Ia hadir lebih sebagai pertanyaan daripada jawaban. Apakah mungkin hidup dengan lebih sadar terhadap pikiran sendiri? Apa yang menghalangi kita untuk menghadirkan jeda? Dan mengapa ketergesaan terasa lebih nyaman daripada kesadaran?
Tulisan ini tidak bertujuan menenangkan pembaca dengan kesimpulan. Ia justru ingin meninggalkan kegelisahan yang produktif. Sebab, tanpa rasa lapar intelektual, diskusi mudah berubah menjadi pengulangan pendapat. Tanpa kegelisahan, berpikir mudah terjebak dalam rutinitas mental.
Kesadaran berpikir, sejauh yang dibicarakan dalam perjumpaan ini, bukanlah tujuan akhir. Ia adalah medan latihan. Kadang hadir, sering hilang, dan selalu menuntut upaya untuk kembali. Tidak ada manusia yang sepenuhnya sadar, tetapi selalu ada kemungkinan untuk mulai menyadari.
Mungkin kita belum sampai pada jawaban tentang bagaimana seharusnya berpikir. Namun, jika tulisan ini berhasil menumbuhkan satu pertanyaan yang mengganggu kenyamanan intelektual pembaca, maka ia telah menjalankan fungsinya sebagai amunisi awal diskusi. Sebab, diskusi yang hidup tidak lahir dari kepastian, melainkan dari rasa lapar yang belum terpuaskan.
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Maumere Flores







