Mengimbangi Kecerdasan Intelektual dan Spiritual di Pesantren

oleh -818 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Achmad Faisal Hadziq

Gejala seorang anak-didik mengalami brain rot terutama dikarenakan kedangkalan pikiran, kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang digelutinya. Penyebab yang paling utama adalah mengonsumsi konten-konten dangkal yang tak berkualitas, hingga semakin mengurangi stimulasi kecerdasan intelektualnya.

Untuk itu, pendidikan pesantren modern yang membatasi anak-didik dalam penggunaan internet, berupaya menjembatani fungsi otak tengah dan otak depan (prefrontal cortex) dengan berbagai aktivitas kognitif yang menantang. Di lingkungan pesantren, anak-didik dilatih agar berdiskusi dan berkomunikasi sesama para santri dari berbagai daerah, hingga aktivitas otak semakin terasah ketajamannya lantaran tidak terjebak ke dalam multitasking yang berlebihan.

Disiplin pesantren juga mengatasi gejala-gejala brain rot yang diakibatkan kekurangan tidur, karena sejak Pk. 10.30 malam, semua santri harus beranjak ke kamarnya masing-masing, dan tidak boleh seorang pun mengganggu kawan lainnya yang sedang beristirahat, untuk kemudian memulai aktivitas keesokannya sejak Pk. 04.00 dinihari.

Pesantren modern

Di lingkungan pesantren modern, seperti La Tansa, Gintung atau Gontor, diniscayakan pola makan yang sehat, serta pentingnya para santri mengoptimalkan potensinya dalam bakat olahraga maupun kesenian. Hal ini memungkinkan mereka bergiat dan berkreasi di lapangan terbuka bersama teman-teman lainnya, hingga aktivitas fisik akan berdampak positif ketimbang kebanyakan pelajar yang berteman dengan gawainya selama berjam-jam, bahkan seharian penuh.

Ketergantungan pada dopamin instan akan berdampak negatif bagi kebanyakan otak pelajar Indonesia, karena interaksi yang terus-menerus dengan medsos, game, atau notifikasi lainnya hingga menciptakan ketergantungan, Sementara, di lingkungan pesantren, para santri dapat leluasa menikmati aktivitas yang memerlukan usaha lebih, seperti membaca buku, mendiskusikan pelajaran, menanyakan materi pada guru dan pengasuh yang standby selama 24 jam, serta mengolah keterampilan bersama teman-teman lainnya.

Aktivitas di tempat-tempat terbuka, dapat menjauhkan santri dari kemungkinan terserang brain rot, yang dampaknya sangat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup manusia Indonesia di era milenial ini. Ketika para santri membuka internet di ruang-ruang laboratorium, tak ayal mesti didampingi para guru dan pengasuh, agar mereka terarah dalam memprioritaskan konsumsi konten yang bermakna, seperti artikel tentang keislaman, buku-buku edukatif, maupun podcast yang memperkaya khazanah keilmuan.

Hal itu meniscayakan para santri dapat melatih fungsi otaknya dengan baik, dilengkapi dengan aktivitas ritual (ibadah) di masjid, yang menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat (dalam bukunya “Ilmu Jiwa Agama”) sebagai jalan tengah untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan pikiran). Menurutnya, kegiatan yang bersifat mindfulness ini akan semakin membantu para santri, bahkan dianjurkan bagi tenaga pendidik di sekolah-sekolah formal agar dapat membantu otak pelajar lebih fokus, serta dapat mengurangi efek negatif dari overstimulasi digital.

Lebih leluasa bagi para santri mempraktikkan teknik “pomodoro”, yakni suatu metode untuk memenej waktu secara efektif, agar meningkatkan fokus dalam belajar, giat dalam produktivitas, serta sanggup mengurangi penundaan. Dengan membagi waktu belajar dengan interval fokus yang teratur, teknik ini dapat membantu menjaga konsentrasi santri, serta mencegah kelelahan, sehingga tugas-tugas pendidikan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.

Untuk itu, pendidik dan pengasuh yang baik takkan membebani santri dengan tugas-tugas yang menimbun, tetapi mereka dapat tekun dan ulet dalam menyelesaikan satu tugas dalam satu waktu, hingga konsentrasi mereka dapat terarah dengan baik.

Psikologi pendidikan

Pada prinsipnya, di lingkungan pesantren modern seperti La Tansa, Daar el-Qolam, maupun Gontor, selalu diupayakan pola makan santri yang seimbang, tidur yang cukup, berkesenian atau berolahraga secara teratur, serta dapat membantu otak santri agar tetap sehat, hingga dapat meningkatkan konsentrasi dan daya ingat mereka.

Kegiatan riset dan menganalisis sesuatu, dapat meningkatkan otak depan pada diri santri (prefrontal cortex), sementara itu amigdala atau bagian otak tengah tidak akan terimbas oleh hiper responsif, ketimbang pelajar di luar pesantren yang dibiarkan mengonsumsi konten atau tontonan yang langsung mengarah kepada hal-hal yang sifatnya emosional. Bagaimana pun, para pengasuh di lingkungan pesantren menjaga peran dan fungsi otak manusia yang bersifat plastis, karenanya semakin sering diajak berpikir kritis untuk membahas sesuatu dan memecahkan masalah, fungsi otak manusia akan semakin berkembang dengan baik.

Dalam hal ini, psikologi pendidikan banyak mengulas, bahwa jika otak anak-didik sering terpapar konten yang tidak bermutu atau bersifat pasif, kemampuan kognitif otaknya akan menurun. Di sisi lain, jika informasi terserap ke dalam otak secara menumpuk dalam waktu yang bersamaan, sama halnya dengan guru yang membebani banyak PR kepada muridnya hingga akan terjadi cognitive overload.

Aktivitas di lingkungan terbuka dan dalam dunia nyata, bersama santri-santri lainnya, meniscayakan pendidikan pesantren dapat membantu otak bekerja dengan baik, memulihkan kejernihan berpikir, serta terhindar dari kemungkinan terserang brain rot yang sedang menggejala dalam kehidupan remaja akhir-akhir ini.

Tetapi, di lingkungan pesantren modern, dengan menerapkan kebiasaan yang lebih sehat, niscaya pendidikan bagi anak-anak bangsa dapat terkontrol dan terarah, terutama bagi keseimbangan kecerdasan antara intelektual dan spiritualitasnya. Sehingga, generasi muda kita dapat menyongsong Indonesia emas dengan optimistis dan penuh rasa percaya diri. ***

Penulis adalah Akademisi dan pengasuh pondok pesantren modern La Tansa 2, di Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.