Oleh: Mumin Roup
Sebagian besar persoalan masyarakat modern dengan segala ketakutan yang mengancamnya, tidak lain disebabkan mereka tidak mampu mengidentifikasi diri. Krisis kepribadian karena kekhilafan dan kealpaan untuk meluangkan waktu, hingga tak mampu berkaca dan memaknai diri. Akibatnya, mereka terus-menerus berpikir bahwa segepok uang akan mampu menyelesaikan berbagai masalah sosial, kriminalitas, hingga kerusakan ekosistem yang terus-menerus menghadang hingga detik ini.
Konsep uang seakan merangsek dan menyusup masuk hingga menguasai segala informasi perihal kebudayaan manusia. Segalanya tak lepas dari urusan harga dan angka-angka, baik soal makanan, pendidikan, permainan, kesehatan, informasi, media, hingga urusan berkomunikasi dan bercakap-cakap. Mereka sepertinya mendorong untuk membicarakan urusan harga dan merek-merk terbaru, hingga memutuskan hubungan dengan segala hal yang dianggap tak bermakna dan tak bermutu. Betapa seringnya uang yang menjadi alat ukur, serta menjadi faktor pemicu dalam segala pergelutan dan pertikaian.
Uang seolah menjadi pengganjal dan hubungan untuk menangani keterputusan dengan apa yang dicintai dan dibenci. Hanya dengan uang, manusia dapat memperkokoh dan mempertahankan ilusi keterpisahan itu.
Akal sehat
Jarang sekali orang beranggapan, bahwa hanya uang yang menjadi solusi atas segala permasalahan, sampai-sampai banyak yang kehilangan akal sehatnya. Mereka telah mengorbankan kesehatannya demi uang, hingga berupaya memulihkan kesehatan tersebut melalui uang pula. Mereka terlampau gelisah akan masa depan, sehingga tidak dapat menikmati masa kini dengan baik.
Uang telah menyempitkan pandangan dan persepsi manusia akan alam dan lingkungannya. Ia terus masuk dan merangsek hingga ke pedalaman, dusun dan perkampungan, agar memiliki keseragaman dalam memaknai jumlah dan angka-angka, mendesak seluruh masyarakat agar memasuki peradaban global yang dipaksakan.
Para penguasa juga telah menempatkan uang pada kedudukan dan posisi yang lebih tinggi, sehingga membutakan pandangan manusia akan segala sesuatu yang lebih mendesak darinya. Ini yang paling kentara dalam soal Keadaan manajemen pemerintahan, yang sepertinya harus dipaksakan oleh kepentingan uang terhadap hajat kehidupan suatu bangsa.
Untuk itu, hendaknya masyarakat berhati-hati, karena bila mereka sudah masuk ke dalam jebakan uang dan utang (debt trap), ia akan membetot kesadaran dan kesehatan mental, hingga manusia hanya berfungsi sebagai abdi-abdi dari pihak yang berpiutang, bahkan terkerangkeng menjadi budak dari keberadaan uang itu sendiri.
Harapan untuk Pemimpin
Pada prinsipnya, pemimpin yang sanggup berkorban, tidak akan menanggung untung rugi atau menuntut kompensasi apa pun. Dalam pengorbanan , hanya ada ketulusan hati dan keikhlasan. Seorang hamba yang mengabdi pada Tuhannya senantiasa mengorbankan ego-ego pribadinya, kepentingan dirinya , demi membela kepentingan dalam s e kala besar. Itulah yang disebut ‘kemaslahatan’, yaitu berani memikirkan kepentingan pribadi untuk memperjuangkan kepentingan umat. Keakuannya hanya ke dalam, serta kemaslahatannya tampil ke permukaan.
Pemimpin yang “berpuasa” sejatinya adalah pemimpin yang rela berkorban, lebih mengutamakan kepentingan rakyat dan tanah airnya. Namun, jika kesibukannya hanya mengumbar retorika , melestarikan pamor dan popularitas, sesungguhnya ia hanyalah manusia bertopeng yang menjelmakan diri sebagai penguasa.
Teguran Nabi Muhammad perihal pemimpin yang jiwa tak berpuasa, selaras dengan peringatan Yeremia kepada para pemimpin yang intinya terpusat pada keserakahan dan memilih. Para pemimpin ini gagal memerintah dengan belas kasihan atau keadilan.
Mereka hanya menggunakan kekuasaan untuk melayani kepentingan pribadi mereka. Allah melihat kejahatan mereka dan meminta pertanggungjawaban atas tindakan mereka. Dalam Al-Kitab jelas-jelas disampaikan (Yesaya 1:23), “Pemimpin-pemimpin kalian adalah pemberontak, sahabat para pencuri. Mereka semua suka menerima suap dan menuntut ketidakseimbangan, tetapi mereka tidak mau membela hak-hak anak yatim atau memperjuangkan hak-hak para janda.”
Banyak para politisi dan peng uasa yang cenderung mengungkapkan keislamannya dengan kutipan dan kegaduhan semata . Perhatian mereka terhadap diri mereka sendiri dalam rangka evaluasi diri, masih bisa dikalahkan oleh kesibukan untuk memerhatikan pihak lain yang dianggap salah dan keliru. Kini, di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, selayaknya memanfaatkan seoptimal mungkin untuk merenungkan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, hingga terwujudnya peningkatan kualitas kehidupan bermasyarakat.
Para pemimpin harus mampu mengalahkan musuh-musuh yang ada dalam dirinya. Sebab, musuh yang hakiki bukanlah lah segala sesuatu yang ada di luar dirinya, melainkan bersemayam dalam tubuh dan jiwa. Mereka harus menjiwai pengertian yang substantif perihal hakikat puasa itu sendiri.
Ketika jiwa sudah berpuasa, niscaya akan muncul pemihakan pemimpin pada keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Serupa tersurat dalam Amsal: 16:17, bahwa “Seorang raja niscaya akan membenci kejahatan, manakala pemerintahannya sudah dibangun di atas dasar keadilan.” (*)
Penulis adalah Peneliti dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta







