Sakramen Minyak Suci: Antara Harapan Iman dan Ketakutan akan Kematian

oleh -715 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Faustino Da Cruz

Sakramen Minyak Suci atau sering disebut sakramen Pengurapan Orang Sakit merupakan salah satu dari tujuh sakramen dalam Gereja Katolik. Adapun makna sakramen ini yakni sebagai simbol kehadiran Allah dalam penderitaan manusia. Penting dicatat bahwasannya, dari sisi praktis, pemahaman umat Katolik tentang sakramen Pengurapan Orang Sakit masih terbilang sempit. Alasan utamanya adalah karena muncul anggapan bahwa Sakramen Pengurapan Orang Sakit selalu diidentikan dengan kematian. Penyempitan makna seperti itu telah menjadi bacaan umum, sehingga tidak jarang ditemukan narasi penolakan dan bahkan ketakutan dari umat beriman untuk meneriman sakramen tersebut. Asumsi tersebut sejatinya tidak terjadi pada semua orang karena terdapat segelintir orang yang justru memberi diri secara total untuk menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

Dalam narasi Alkitabiah, terkhususnya dalam Perjanjian Baru, kita melihat di mana Yesus banyak melakukan mukjizat penyembuhan. Sekadar diingat bahwa dalam karya Yesus, penyembuhan sejatinya tidak hanya bermakna sembuh dari segala sakit-penyakit, tetapi juga seorang terbebas dari dosa. Penginjil Markus misalnya menyajikan kepada kita di mana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh. “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”;  Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa (Bdk. Mrk 2:5-12). Masih dalam narasi Markus kita dapat menemukan pula sosok Yesus yang dengan wibawa-Nya meminta kepada orang-orang sakit yang telah disembuhkan agar mereka percaya (Bdk. Mrk 5:34. 36; 9:23).

Dalam Injil Matius kita dapat menemukan bagaimana Yesus mengidentikan diri-Nya dengan mereka yang paling hina (menderita). Apa yang kamu lakukan pada seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Bdk. Mat 25:40). Ayat tersebut sebenarnya tidak menyentil tentang orang sakit atau orang berdosa, akan tetapi kata hina atau menderita yang sejatinya mengambarkan situasi dan kondisi dari orang-orang yang lemah dan butuh sokongan untuk disembuhkan.

Menurut penulis, narasi yang termaktub dalam Injil Matius terkhususnya hyme misoner dalam Matius 10:8 (sembuhkanlah orang sakit) dan dalam Injil Markus 16:18 (mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”). Kedua ayat tersebut jika ditafsir bahwa perihal menyembuhkan orang sakit dan mengampui dosa tidak hanya dilakukan oleh Yesus terhadap orang-orang sakit dan menderita pada masa-Nya, tetapi juga terjadi hingga kini dilakukan para Imam sebagai in persona Christi.

Dasar biblis yang telah tercatat di atas menunjukan sebuh dimensi fundamental mengapa Sakramen Pengurapan Orang Sakit tetap dipelihara dalam Tradisi Gereja Katolik. Setelah mengetahui pendasaran biblis sakramen Pengurapan Orang Sakit, ada baiknya kita menyelami pendasaran teologis sakramen tersebut. Secara teologis, Sakramen Minyak Suci adalah sakramen penyembuhan yang membawa rahmat penguatan, penghiburan, dan pengharapan.

Dalam Dokumen Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium Art. 11 mengatakan: “Melalui perminyakan suci orang sakit dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka (lih. Yak. 5:14-16); bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus (lih. Rom. 8:17; Kol. 1:24; 2Tim. 2:11-12; 1Ptr. 4:13), dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraan Umat Allah.”
Selain Lumen Gentium, Katekismus Gereja Katolik ikut bersuara tentang Sakramen Minyak suci.

“Sembuhkanlah orang sakit” (Mat 10:8). Gereja menerima tugas ini dari Tuhan dan berusaha melaksanakannya, dengan merawat orang sakit dan menyertainya dengan doa syafaatnya. Ia percaya akan kehadiran yang menghidupkan dari Kristus, Penyembuh penyakit jiwa dan badan. Kehadiran ini bekerja terutama melalui Sakramen-sakramen, dan sangat khusus melalui Ekaristi, roti yang memberi hidup abadi Bdk. Yoh 6:54. 58. Santo Paulus menunjukkan bahwa Ekaristi mempunyai hubungan juga dengan kesehatan badan Bdk. 1 Kor 11:30. (KGK. 1509).

Dari dua pernyataan dokumen Gereja di atas kita bisa tahu bahwasanya Sakramen Minyak Suci menghadirkan dimensi spiritual yang melampaui sekadar kesembuhan fisik, yaitu pemulihan relasi dengan Allah dan kesiapan batin dalam menghadapi situasi hidup yang sulit. Dengan demikian, sakramen ini seharusnya dipahami sebagai ungkapan kasih Allah yang menyertai manusia dalam kelemahannya. Kedatipun, dalam praktiknya, banyak umat masih menunda menerima sakramen ini hingga kondisi sakit sudah sangat parah atau bahkan menjelang ajal.

Fenomena ini menunjukkan adanya ketakutan yang kuat terhadap kematian, sekaligus kesalahpahaman bahwa menerima sakramen ini berarti “menyerah” pada keadaan. Budaya dan kebiasaan lokal juga turut memperkuat stigma tersebut, sehingga keluarga sering kali ragu memanggil imam lebih awal. Akibatnya, sakramen yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru kehilangan peran pentingnya dalam perjalanan iman umat.

Di sisi lain, perkembangan dunia medis modern turut memengaruhi cara pandang umat terhadap sakit dan penyembuhan. Kemajuan teknologi kesehatan sering kali membuat manusia lebih mengandalkan pengobatan ilmiah dan mengabaikan dimensi spiritual. Padahal, pendekatan medis dan iman tidak harus dipertentangkan. Sakramen Minyak Suci justru dapat menjadi pelengkap yang memberikan ketenangan batin, harapan, dan makna di tengah proses penyembuhan yang dijalani secara medis.

Oleh karena itu, diperlukan upaya pastoral yang lebih intensif untuk meluruskan pemahaman umat mengenai Sakramen Minyak Suci. Gereja perlu secara aktif memberikan katekese yang menekankan bahwa sakramen ini adalah tanda kasih dan penguatan, bukan sekadar ritus menjelang kematian. Selain itu, keluarga juga diajak untuk lebih terbuka dalam menghadirkan pelayanan rohani bagi anggota yang sakit sejak dini.

Pada akhirnya, Sakramen Minyak Suci mengajak umat untuk melihat sakit bukan hanya sebagai penderitaan, tetapi juga sebagai kesempatan mengalami kasih Allah secara lebih mendalam. Ketika ketakutan akan kematian dapat diimbangi dengan harapan iman, sakramen ini menjadi sumber kekuatan yang nyata. Di tengah dunia yang sering menghindari pembicaraan tentang penderitaan dan kematian, Sakramen Minyak Suci justru hadir sebagai tanda harapan bahwa kasih Allah tidak pernah meninggalkan manusia, bahkan dalam saat-saat paling rapuh sekalipun.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.